Senin, 29 Juni 2009

Cerpen Muttaqin (Radar Banten, 07 Juni 2009)


Subhan calon menjadi Tuhan

Ternyata, matahari dan bulan adalah saudara kandung. Mereka dapat melengkapi satu sama lain. Mempunyai pekerjaan masing-masing. Mereka bisa berjalan sebagaimana waktu yang telah menjadwalkannya. Tapi mereka tidak akan bersama-sama. Karena berada di alam terpisah.
Ternyata, ikan dan air adalah saudara kandung. Mereka bisa menyatu selamanya. Menjelajah lautan dan rawa-rawa. Mereka berjalan bersama. Tapi seseorang telah mengambil ikan dari air. Kini ikan bukan di air lagi. Air menangis mencipta lautan.
Ternyata, awan dan hujan adalah saudara kandung. Mereka itu sebab dan musabab. Sebab awan maka hujan. Akibat Awan bisa menjadi hujan. Awan itu bisa ngambek dan menangis, lalu mencipta hujan. Badai, petir, atau bahkan banjir. Orang bilang itu bencana. Tolong jangan salahkan hujan. Hujan tidak salah apa-apa. Ia hanya suruhan awan. Awan lalu bertanya pada angin.
Ternyata, lagi-lagi angin dan badai bisa menjadi saudara kandung. Mereka sama seperti matahari dan bulan, ikan dan air, bahkan awan dan hujan.
***
Malam hari Subhan melihat bulan dan kawan-kawannya, bintang dan langit gelap. Ia berada di atap rumahnya. Alangkah indah ciptaan Tuhan. Ia iri pada Tuhan. Tuhan bisa menciptakan apa saja yang dikehendaki. Tidak ada yang salah atau bahkan gagal, Tuhan dalam menciptakan sesuatu. Selalu bermakna dalam mencipta sesuatu. Sangat jauh berbeda dengan dirinya. Ia ternyata baru yakin bahwa ia tidak bisa menjadi Tuhan. Membuat cerita begini saja banyak yang tidak nyambung. Apalagi mencipta cerita tentang Tuhan. Bagaimana mencipta cerita tentang bumi dan seisinya. Bulan seisinya. Dan matahari seisinya. Subhan tetaplah manusia biasa. Hanya bisa protes dan iri terhadap Tuhan. Bukan Tuhan saja, tapi terhadap ciptaannya.
Keluarga Subhan sebenarnya tidak teramat miskin. Subhan merasa hidup miskin lebih kaya daripada menjadi orang kaya. Orang kaya pasti was-was atau takut kehilngan harta. Sehingga ia hanya memikirkan kekayaan saja. Itu berarti ia miskin. Miskin hati dan pikiran. Sedangkan orang miskin, sebaliknya. Ia tidak pernah was-was atau takut kehilngan harta. Bagaimana memikirkan itu, punya saja tidak. Lucu bukan. Hati dan pikirannya selalu bebas. Bisa memikirkan apa saja. Tanpa harus merasa dirinya kecurian. Subhan tidak pernah membayangkan apa yang dinamakan kaya. Ia bisa saja dengan mudah menjadi sukses. Subhan beberapa kali pernah ditawari menjadi kepala desa. Tapi ia tidak mau. Karena takut, katanya. Mengapa Tuhan menciptakan rasa takut pada dirinya? Ia tak tahu. Lalu ia tertidur. Dan mendapati mimpi yang menjadikannya Tuhan.
Tuhan sebenarnya tidak tidur. Tapi Subhan menyangka Tuhan pasti tidur. Semua makhluknya saja bisa tertidur. Kata orang, mengapa Tuhan tidak bisa tidur. Apakah ia punya mata dan juga telinga. Ataukah ia tak punya tempat tinggal. Tuhan kan punya segalanya, katanya. Bisa saja Tuhan tidak mampu membayar kosan, makanya ia tidak bisa tidur. Ataukah Tuhan memang sudah mati. Subhan bersedia menampung Tuhan kalau pun Tuhan sedang mencari tempat tebengan tempat tinggal karena pingin tidur. “Mas, ini sudah siang jangan tidur saja!!! ” Istrinya membangunkan dirinya yang sedang tidur membayangkan Tuhan mencari tempat tinggal. “Iya, aku segera mandi.” Hari ini Subhan harus pergi ke pertigaan depan SPBU, berlaga seperti komandan.
Subhan menikahi istrinya sebulan yang lalu. Awalnya, mertuanya tidak setuju kalau anaknya menikah dengan Subhan. Dapat apa menikah dengan lelaki yang tak punya tempat tinggal, pekerjaan sebagai tukang parkir, untung saja wajah yang lumayan. Tapi mertuanya sadar bahwa sejelek apapun tempat tinggal, sekotor apapun pekerjaannya, Subhan mampu menjadi seorang suami yang baik bagi anaknya. Terbukti dengan sekarang Subhan diangkat menjadi kepala desa.
Ya, kepala desa kini dikendarai oleh Subhan, tukang parkir di pertigaan depan SPBU. Subhan berlaga seperti orang asing di kampungnya. Ia tak lagi berpakaian kumuh, atau handuk robek. Ia sekarang berkemeja dan berdasi. Sepatu dengan semir mengkilau. Celana katun. Bahkan peci di kepalanya. Ini pemandangan aneh bagi istrinya. Bagaimana bisa suaminya menjadi kepala desa yang disegani banyak orang? Ia tak tahu lagi Subhan akan menjadi apa setelah ini. Awalnya istrinya berpikir bahwa Subhan tidak mungkin mau untuk menjadi kepala desa. Tapi ternyata Subhan mau. Entah apa yang terlintas dipikiran Subhan. Ia barangkali ingin memperbaiki taraf hidupnya. Atau ia ingin menandingi Tuhan. Sungguh istrinya tak tahu.
Hari ini adalah hari pesta rakyat. Pemilu, pemilihan umum. Subhan dan istrinya secara diam-diam mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Mekanisme dalam Pemilu ini berbeda dengan Pemilu di Indonesia pada umumnya. Para calon legislatif harus mencalonkan atau dicalonkan oleh keluarganya sendiri. Sehingga calon dari keluarga legislator itu lebih dari satu. Bisa dua, tiga, atau bahkan seluruh anggota keluarga ikut dalam pencalonan. Pertanyaannya adalah siapa yang akan menjadi pemilih jika semua keluarga mencalonkan diri sebagai caleg. Ironis sekali bukan. Keluarga Subhan punya strategi jitu dalam menggerakan masanya. Ia selaku kepala desa memiliki kekuasaan penuh dalam menggerakan masa di desanya. Ia tak lagi khawatir jika kekurangan suara. Toh dia sendiri yang jadi panitianya. Sangat mudah dalam memanipulasi suara. Ia dan istrinya berpeluang penuh menjadi anggota dewan. Mereka berdua begitu romantis ketika sama-sama mencontreng partainya. Istrinya memakai kebaya dan rok panjang, yang berharap ia mirip dengan R. A. Kartini. Dan Subhan, ia mengenakan kemeja lengan panjang, celana katun dan sebuah peci, yang berharap ia mirip dengan Soekarno.
***
Barangkali matahari dan bulan, ikan dan air, awan dan hujan, bahkan angin dan badai bukan saudara kandung. Semuanya bertengkar memperebutkan kekuasaan. Ketika matahari ingin menghangatkan bumi, bulan muncul karena bulan ingin hari itu menjadi terang olehnya, bukan terang yang sangat oleh matahari. Ikan hanya bisa hidup dan berada di air. Air sudah bosan menampung ikan, mereka bertengkar. Akhirnya tak ada air serta ikan. Awan kini tak lagi mendung sehingga hujan tak kunjung tiba. Hujan protes kepada angin, angin meminta badai.
Semua makhluk Tuhan protes. Dunia seakan kiamat. Semua bertengkar. Tak ada yang kalah dan mengalah. Subhan bertengkar dengan istrinya. Subhan tak rela jika posisi anggota dewan ada padanya. Ia kan kepala rumah tangga sekaligus kepala RT. Apa kata orang kampung jika ia kalah dengan istrinya. Subhan protes kepada Tuhan. Ia bertanya. Apakah ada pemilihan Tuhan? Barangkali ia pantas mencalonkan diri menjadi kandidat calon Tuhan.


/Bandung, 25 Mei 2009/





Muttaqin Zaenal, lahir di Serang, 24 Februari 1989. Tinggal di Bandung. Sedang menyelesaikan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penikmat sastra dan penggiat linguistik. Tergabung dalam Komunitas Anak Sastra UPI. Beberapa puisi dan cerpennya sering mampir di humpilahop.blogspot.com (Blog para penulis muda). Puisinya tergabung dalam buku antologi puisi Para Penyair Muda (Flash Production, 2009). HP : 085659005862 No. Rekening BNI Cabang UPI Bandung 0133309722

Tidak ada komentar:

Posting Komentar