“Langkah Catur Jibril...”
OLEH MUHAMMAD ARIF RIDWAN
Jibril mengisap cerutunya, lalu menghembuskan asap tembakau yang berputar lembut melewati bidak-bidak catur yang terjaga di atas papannya. Apakah ini suasana surga? Jibril sungguhan yang bermain catur seraya menghisap tembakau? Kuharap aku hanya bermimpi.
***
“Inilah tempatmu, duduklah dan jalankan bidakmu...” suara itu menegurku, atau mungkin lebih tepatnya memerintahku.
“Siapa kau?” tanyaku, ditujukan pada pemilik suara itu, seorang pria muda berwajah cerah dan mata yang jernih.
Pria itu tersenyum.
“Aku tidak berhak. Aku hanya mengantarkanmu, Key...” katanya.
Aku terus memperhatikannya. Pria itu berbalik dan melangkah menghilang di balik kabut putih yang pekat. Beberapa saat setelahnya, kabut itu menipis, lalu lenyap. Sebuah bukit hijau terbentang luas di tempat menghilangnya sang kabut. Di puncaknya terdapat istana megah yang berkilau unik. Intan? Marmer? Bukan... Istana itu tampak tersusun dari bebatuan yang jauh lebih unik, kau takkan bisa membayangkan seperti apa cahayanya. Sekilas, istana itu bercahaya violet bercampur perak, tapi lalu kau akan sadar bahwa cahaya itu bukanlah violet, mungkin cyan... atau bahkan berwarna keemasan. Dan tidak, warnanya berubah setiap kali kau memandangnya.
“Key, apa kau akan memandangi istana itu terus?” satu suara mengejutkanku dari belakang. “Tidak melupakanku di sini ‘kan?” lanjutnya, lalu aku berbalik menghadap pemilik suara itu.
Seorang pria berkontur muka kotak, dengan tubuh cukup kekar yang terbungkus jubah putih panjang. Ia duduk santai di sebuah bangku kecil, bangku catur. Di hadapannya, papan catur dan bidaknya telah tersusun rapi, siap bermain. Sedangkan kursi pemain di hadapannya masih kosong. Dan tanpa diberitahu, aku pun mengerti, akulah lawan bermainnya.
“Kenapa? Kau bingung?” tanyanya. Suara pria itu begitu kokoh dan berwibawa, ada gema pula yang seolah mengulang perkataannya.
“Bukan,” akhirnya aku bicara, seraya menggerakan tubuhku untuk duduk perlahan di hadapannya.
Ia mengangkat sebelah alisnya.
“Aku hanya tidak mengerti.” lanjutku. “Di mana aku?”
“Kau sudah tahu di mana, Key,” jawabnya singkat.
Aku ragu. Kulihat lantai pualam yang menjadi tempat kursi kami berpijak, cahayanya seperti bintang di langit malam. Kutatap lagi luasnya bukit yang ada di belakangku, bukit itu luas tak terbatas. Jauh pula, namun terasa begitu dekat. Bahkan dari jarak mataku memandang pun aku dapat melihat bunga-bunga bermekaran dalam ragam warna yang indah. Diantaranya, mengalir sungai jernih yang disisinya menyala kunang-kunang. Sungai itu mengalir dan tampak sebuah danau sebagai muaranya. Di atas bukit, langit meneduhi, tapi bukan berwarna biru ataupun jingga melainkan warna-warna serupa pelangi yang tipis, bergerak mengalir tanpa ada cahaya matahari. Aku tercengang, lagi... dan lagi.
“Tidak mungkin,” sanggahku. “Aku bukan berada di...”
“Ya,” potongnya...
“Kau ada di Surga. Dan aku Jibril, atas nama Yang Maha Kuasa aku menantangmu bermain catur.”
***
Bidak catur itu telah berada di posisinya masing-masing, seperti biasa, menunggu pemainnya berpikir dan menggerakkannya untuk saling berperang. Satu hal yang biasa, ya... Tentu, aku sudah terbiasa bermain catur dan menang dalam segala permainan. Aku ahli. Dan aku tak takut untuk bermain catur dimanapun, siapapun lawannya. Tapi kali ini berbeda! Aku bermain di Surga, aku bermain dengan Jibril...
“Mustahil!” aku mengerang.
Jibril menatapku heran seraya kembali mengisap cerutunya. Aku tak menghiraukannya, tidak sama sekali. Yang kuyakin, ini tentulah hanya sebuah mimpi. Aku belum mati. Aku pasti hanya tertidur dan mendapati sebuah mimpi fantastis yang bahkan diluar fantasi terhebatku. Surga? Jibril? Yang benar saja!
“Kau tidak bermimpi.” Kata pria yang mengaku Jibril itu.
Aku tercengang lagi mendapatinya seolah membaca pikiranku. Kutatap matanya dengan tajam. Tidak... tak ada kebohongan disana.
“Tapi aku tak mungkin berada di Surga. Aku belum mati.” Ujarku.
Ia tersenyum, tampak geli mendengar ucapanku. Sedangkan aku mengerung, ini sungguh-sungguh diluar akal sehat.
“Sayangnya tidak. Kau sudah mati, Key. Kau hanya lupa kapan dan bagaimana...” ia memajukan bidak kecil dihadapan raja satu langkah, “Ayolah, kita harus bermain. Ini perintah Yang Maha Kuasa.”
Kumajukan bidak caturku dengan sembarang, aku masih tak mengerti atas semua keanehan ini.
“Kau berbohong,” kataku. “Kau tak tampak seperti Jibril...”
“Apa maksudmu? Memangnya kau pernah melihatku sebelumnya?” jawabnya santai, jemarinya bergerak memajukan patih menyerong melewati raja.
“Tidak” jawabku. Aku tidak mempedulikan caturnya, dan lagi-lagi, aku memajukannya dengan sembarang. “Tapi kau bahkan tak terlihat seperti malaikat-malaikat yang kutahu..., kau tak punya sayap, kau tak punya lingkaran emas diatas kepalamu... dan, emm, ya, mana cahaya yang harusnya keluar dari tubuhmu!? Belum lagi kau malah menghisap cerutu, malaikat macam apa seperti itu...”
Aku bersikeras meyakinkan diriku sendiri bahwa ini semua hanya mimpi, dan aku akan segera terbangun jika sudah waktunya. Tapi bagian lain dalam diriku ini berkata lain. Ini nyata, ini sungguhan... Ini surga, dan itulah Jibril, yang ada dihadapanku.
“Jadi menurutmu seperti itulah keadaan malaikat?” kata Jibril, ada gema lagi yang mengulang suaranya. “Baiklah...”
Sebuah siluet cahaya menembus mataku, aku merasakan seolah buta sesaat. Hingga cahaya itu memudar, kudapati bayangan Jibril telah berdiri di hadapanku, tampak lebih besar. Diiringi bunyi berderak, sepasang sayap putih menyala terbentang dari punggungnya, diikuti oleh terbentuknya lingkaran emas di atas kepalanya.
Aku merasakan tubuhku membeku, juga otakku, telinga dan bibirku... Kusaksikan pria itu mengubah wujudnya, begitu cepat dan drastis. Begitu akurat pula, ia menyamakan pikiranku dan bayanganku tentang rupa sesosok malaikat. Ini lebih dari sekedar menakjubkan, membuatku tak bisa berkata apapun lagi.
Perlahan, Jibril kembali duduk... meski kini tampak agak direpotkan oleh sayapnya. Tapi semua ini tetap menakjubkan. Aku berhadapan dengan malaikat sungguhan, dengan Jibril sungguhan. Ini membuatku merasa merinding yang tak terutarakan, entah perasaan apa, seperti ada getaran listrik di sekujur tubuh. Membuat syok dan lemah.
“Kenapa lagi?” tanya Jibril seraya membuang cerutunya, lalu kini ia menampakkan ekspresi yang begitu naif. “Bukannya ini sosok malaikat yang ada dalam pikiranmu...?”
“Y-ya,” aku tergagap, “Tapi, ...emm, bagaimana kau bisa begitu cepat..., melakukan itu? Apa, maksudku..., apakah ini memang wujud aslimu?”
Percaya atau tidak, Jibril tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaanku ini.
“Bukan.” Jawabnya. “Ini bukan wujud... asli, tentu. Aku tidak berwujud di mata manusia karena mereka itu nyata sedang aku sesuatu yang ghaib. Tapi aku bisa saja menampakkan wujud asliku padamu, karena kau sudah mati... kau menjadi ruh sekarang, dan itu berarti kau juga ghaib sama sepertiku.”
Entah kenapa aku masih belum bisa menerima disebut telah mati. Tapi aku menahan diriku agar tetap diam.
Ia memajukan lagi bidaknya, kali ini memakan bidakku yang sama sekali tak kujaga.
“Jibril, masih ada pertanyaanku yang lain,”
“Ya?”
“Kenapa aku ada disini? Kenapa aku diantar kesini..., dan bermain catur denganmu. Apakah ini yang disebut akhir? Sebuah catur?”
Jibril diam. Aku ragu ia tak mengerti maksud perkataanku. Atau mungkin perkataanku kurang terdengar? Tidak, kurasa. Di tempat ini hanya ada kami berdua, tak ada orang lain, malaikat lain, dan suara lain yang bisa menyamarkan suaraku.
“Emm, begini maksudku,” kataku lagi. “Jika ini memang surga, kenapa disini aku harus bermain catur? Bukankah ini tempat terindah di jagad raya? Ini tempat akhir dari perjalanan panjang setiap insan di bumi ‘kan? Lagipula... bagaimana bisa di Surga ada sebuah papan catur, bukankah ini mainan di bumi? Tentu ada alasannya ‘kan..., Jibril?”
“Kau benar. Ini memang satu hal yang luar biasa, kau tahu?”
Menunggunya bicara, kumajukan gajahku menyerongi bidak yang sebelumnya kumajukan.
“Tak pernah ada satupun orang yang menduduki kursi tempatmu itu sebelumnya. Tak pernah. Tapi kau, dan aku, kini duduk disini atas perintah Yang Maha Kuasa. Lebih tepatnya, aku diperintahkan untuk mengajarimu beberapa hal penting”
“Mengajariku? Tapi untuk apa –“
“ –ssst. Kau akan tahu sebentar lagi,” jemari Jibril melajukan kudanya melangkahi bidak, “ dan kini giliranmu, majulah...”
Hawa surga bergejolak di sisiku, dan kulihat juga kabut kembali menebal menutupi pemandangan sekitar. Dari jauh, mulai terdengar suara-suara gaduh. Aku tak tahu apa, ini adalah suara yang tak kukenal sebelumnya. Benakku berpikir bahwa ada sesuatu yang yang seolah membuat surga kehilangan keseimbangannya, dan aku tidak menyukainya.
Kutatap bidak-bidak caturku, dan untuk pertama kalinya aku mulai sungguh-sungguh memikirkan permainanku sendiri. Hitam. Ya, ternyata aku bermain sebagai hitam. Beberapa bidakku telah maju, dan gajahku juga telah menyerong cukup jauh. Sementara Jibril, sebagai putih. Satu bidak telah maju dua kali, juga satu patih dan satu kuda. Kuda itu dapat kumakan dengan gajahku, tapi tentu gajahku akan dimakan kembali oleh bidak dibelakangnya. Aku berpikir. Tidak, aku tak perlu berpikir lagi... dengan membiarkan bidak itu memakan kudaku itu akan membuka pertahanannya sekaligus menghambat laju bidak yang lainnya. Ya, aku memang ahli.
“Ayo, majulah,” kata Jibril, aku tersenyum.
Seperti rencanaku, kumajukan kudaku untuk memakan gajahnya. Tapi ini sungguh diluar imajinasiku, segalanya berubah. Surga berubah.
***
Perlahan, gajah catur melaju serong dengan tujuan yang pasti. Perlahan, sebuah kuda catur terangkat dan posisinya tergantikan oleh sang gajah catur. Perlahan, kuda catur itu ditaruh di sisi papan catur sebagai pecundang. Dan perlahan pula, satu senyuman tersirat untuk menyiapkan strategi berikutnya.
Tapi tidak perlahan, Surga telah berubah menjadi Neraka...
Langit dengan warna pelangi yang indah telah berganti dengan langit-langit kelam berwarna merah menyala. Tapi warna merah menyala bagai bara api tak cukup mengejutkanku. Di langit-langit itu, bertahan jasad-jasad serupa manusia yang telah hitam legam terpanggang bara api. Jasad-jasad bernanah kental kekuningan yang saling bertumpuk satu sama lain. Kaki yang satu menutupi kepala yang lainnya, dan kepala yang satu menutupi kaki yang lainnya. Ada pula bagian-bagian yang sungguh terpisah dari bagian lainnya. Semuanya nyaris kehilangan bentuk, tapi itu tak cukup membuatku ngeri sebelum kulihat mereka tidaklah mati ataupun diam... Ya, mereka hidup dan bergerak. Suara mereka meraung memekakkan telingaku, air liur dan darah mereka masih bisa menetes membanjiri tempatku terduduk, dan semuanya bergerak bersusah payah untuk berada tepat diatasku.
“Key!!!” makhluk-makhluk di langit-langit itu memanggilku seolah tertarik dengan penghuni baru.
Aku menatap Jibril, bermaksud menanyai di mana kami sekarang, tapi kusadari tak ada lagi kata-kata yang sanggup terlahir dari bibir ini.
Jibril hanya memberi intruksi untuk kembali melihat sekeliling. Tapi aku bertahan, aku diam tanpa menoleh kiri ataupun kanan. Langit-langit dipenuhi jasad hidup yang tak layak pun telah cukup membuatku ngeri, belum lagi suara iblis yang mereka keluarkan... Cukup! Aku tak bisa melihat yang lainnya!
“Key!!!” suara dari langit-langit terus memanggilku.
Hingga satu lengan besar mencengkram kakiku dengan amat erat. Bukan, cengkraman itu bukan hanya amat erat, tapi itu cengkraman yang bisa langsung meremukkan kakiku. Alih-alih melihat wujud tangan pencengkramnya, aku segera berusaha menarik kakiku. Tapi tak bisa! Kaki itu telah hancur, remuk... dan kini, tercabut dari tempurung lututku. Bersama rasa sakit yang muncul seketika, aku terjatuh dari kursiku. Aku berteriak!
Makhluk-makhluk besar berwarna merah menyala mencengkramku. Tubuh mereka terbalut pijar api seperti magma dari perut gunung. Mereka mengangkatku kembali ke kursi dengan telapak tangan mereka yang nyaris selebar punggungku. Dan saat mereka melakukan itu, aku merasakan dadaku, punggungku, tanganku dan sisa kakiku terbakar oleh pijar-pijar api yang juga terdapat di tangan mereka. Kuku-kuku mereka yang tajam juga menyayat kulitku. Aku terduduk lemas dengan luka di sekujur tubuh, darah bersimbah, namun aku sama sekali tak sanggup berteriak.
Di tempat dudukku, yang rasanya juga telah terbakar api, aku melihat sekeliling...
Ini tempat penyiksaan. Pembalasan. Neraka.
Tampak sepeti gua yang luas penuh lorong-lorong batu bara yang menyala. Berbagai makhluk dirantai disana-sini, entah manusia, entah iblis atau apa. Mereka dicambuk dan dirajam. Ditusuk dan dipenggal. Dibunuh dan dihidupkan kembali untuk kembali dibunuh sebelum akhirnya dihidupkan kembali dan akan kembali dibunuh pula, dan seterusnya. Ada nyala api dimana-mana, dan hanya itulah yang jadi penerang gua. Penerang yang membakar dan menyiksa. Ini... sadis.
Aku kembali menatap jibril, lagi-lagi, tak ada suara yang sanggup keluar dari bibir ini.
“Ini neraka. Jangan kaget, ya...”
Dengan segenap sisa tenagaku, kusanggupkan diriku untuk bicara, meski lirih.
“Apa maksudmu!? Kenapa... kita di sini!?”
“Sudah kubilang, kau akan mengerti... bahwa permainan ini adalah sebuah hukuman bagimu. Tapi bersamaku, dan langkah-langkah caturmu, mungkin kau dapat mengubah jalur hukumanmu...”
“A-apa maksudmu!? Hukuman apa! Jalur apa!”
Tatapan Jibril berubah, tajam, dan kini ada siluet cahaya menembus korneanya. Cahaya itu merasuk mataku dan mengaburkan penglihatanku. Sejenak, kurasakan panas dan sakit ini memudar, seolah semuanya hanyalah ilusi semata. Dan beberapa saat berikutnya, rasa sakit ini sungguh menghilang selaras rasa sejuk yang menyinggapi. Aku telah berada di tempat lain lagi.
***
Aku yakin ini adalah kamarku.
Ada ranjang dengan selimut yang bermotif bintang-bintang kuning. Ranjang itu terletak di sudut kamar dekat dengan lemari pakaian bercat pelitur. Di seberangnya ada pintu kaca menuju beranda. Lantainya putih dan agak mengkilat, memantulkan sedikit warna biru tua dari langit-langit. Lampu dinyalakan, tapi tak ada seorang pun disana.
Derap langkah terdengar dari sisi luar kamar, melangkah mendekati daun pintu. Dan sudah bisa ditebak pintu itu terbuka dengan menampakkan seorang pria di baliknya.
Remaja tanggung. Mungkin sekitar dua puluh tahun. Rambutnya berwarna hitam agak kemerahan, kurang cocok dengan wajahnya yang pucat pasi, juga kantung hitam yang terpampang jelas melingkari kedua matanya. Bibirnya tipis, sama pula pucatnya. Tapi secara keseluruhan ia bisa saja terlihat tampan jika raut wajahnya tak tampak begitu lelah seperti sekarang ini.
Aku belum pernah melihat pria ini sebelumnya. Tapi aku merasa pernah mengenalnya, mungkin hanya lupa, atau mungkin justru salah mengingat.
“Kamu siapa?” kataku, tidak... aku tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulut ini.
Ada apa dengan suaraku? Aku tak sempat memikirkannya. Karena kulihat pria itu mengacak-acak lemariku, ia membongkarnya seperti perampok. Aku segera berlari menghampirinya, bersiap untuk menghantamnya dengan tinjuku.
Kuayunkan satu kepalan tangan kearah kepalanya, tapi tak ada yang terjadi. Tidak, bahkan tanganku pun tak mengenainya, melainkan menembusnya seolah aku hanyalah angin lalu. Kuayunkan tanganku yang lain, meski aku sudah tahu pasti jawabannya. Tanganku yang satupun menembus pria itu. Apa? Apa lagi ini sebenarnya?
“Hei!” aku berteriak, dan lagi-lagi tak ada suara yang keluar dari bibirku.
Sementara pria itu masih terus menerus mengobrak-abrik lemariku, aku berusaha meminta pertolongan. Aku berlari ke muka pintu, dan aku berhenti ketika mendengar derap langkah lainnya dari tangga. Siapa lagi itu? Perampok lainnya?
Hening. Dan aku mematung di muka pintu, gelisah akan apa yang harus aku lakukan. Hingga kusadari suara langkah itu adalah suara langkah ayahku.
“Ayah! Ada orang aneh di kamar, “ lagi-lagi suaraku tak terdengar, dan hal aneh lainnya terjadi. Ayah... menembusku.
Ayahku berjalan cepat setengah berlari ke kamarku, dan ia seolah tak melihatku. Tak mendengarku, bahkan ia berjalan menembusku langsung menuju kamar.
Perlahan, seolah kepingan-kepingan puzzle yang tersusun di tempatnya, semuanya mulai menjadi jelas. Aku memang telah mati. Jibril, mungkin hanya memperlihatkanku tentang bayangan di rumahku saat sekarang ini.
Kini aku memilih tak bersuara. Hanya diam dan menyimak apa yang terjadi antara Ayahku dan pria ini. Apa mereka teman? Musuh? Siapa yang tahu...
“Key! Cukup!” Ayahku berteriak gusar, dan aku tercengang akan siapa yang dipanggilnya.
Key? Itu aku. Pria yang mengobrak-abrik itu adalah aku. Berarti apa maksud semua ini? Jibril memperlihatkanku tentang kenangan yang kulupakan? Tapi pria itu bahkan tak tampak sepertiku. Paling tidak, aku tak ingat pernah berusia dua puluh tahun, kuliah di kampus mana aku saat itu?
Key yang pucat itu berhenti mengobrak-abrik lemari seolah menemukan sesuatu. Lalu ia berbalik cepat, dan...
Tidak. Aku menggeleng. Sekilas, kulihat Colt 2000 meletus dari tangannya, menumpahkan darah dari kepala Ayahku.
***
“Apa pembelaanmu?” Jibril yang bersuara.
Terlalu cepat, aku tak sadar bahwa aku telah kembali berada di Neraka. Langit-langit yang meraung memanggil namaku itu kembali ada. Kursi terbakar yang memanggangku juga ada. Dan makhluk-makhluk besar berwarna pijar api yang menyiksa makhluk lainnya disana.
“Katakan apa pembelaanmu, Key?” kata Jibril lagi. “Kau membunuh ayahmu sendiri.”
“Aku tidak membunuhnya!” teriakku, dan aku sadar suaraku telah kembali. “Maksudku, aku tidak ingat pernah melakukan itu...!” setetes air mata mengalir membasahi pipiku.
“Tentu saja.“ kata Jibril, “Kau memang belum membunuhnya. Itu karena kau telah meninggal pada usia lima belas tahun.”
“Apa?”
“Ya. Tepat saat ulang tahunmu yang ke lima belas, kau menolong Rai, kakakmu dari tabrakan Truk dan membuatmu tewas sebagai penggantinya. Itu tindakan yang heroik bukan? Tapi sayangnya, jika kau tidak tewas dalam kejadian itu, kau akan membunuh ayahmu dan membuatmu harus menjalani siksa di tempat ini. Di Neraka!”
“Tapi kenyataannya aku mati 'kan!? Pembunuhan itu tidak terjadi 'kan!?”
“Maaf. Pembelaanmu salah.” tegas Jibril.
Jibril memajukan lagi bidak caturnya untuk memakan gajah caturku seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Tepat saat gajah itu diambil dari tempatnya, sebuah tombak menghujam dadaku dari punggung. Darah mengalir bersama rasa perih, tapi aku tidak mati. Ini... siksaan Neraka.
“Sakit?” Jibril bersuara lagi, “Itu satu ganjaran bagimu karena memakan kudaku sama seperti saat kau membunuh ayahmu, Key.”
“Tapi aku tidak membunuhnya!!!”
“Tapi kau memperlihatkannya barusan..., apa kau belum mengerti juga?”
Mataku merabun, aku melihat dan mendengar Jibril berkata penuh kesungguhan. Skenario macam apa yang telah digambarkannya untukku ini?
“Rupanya kau belum mengerti, ya, Key? Catur ini, menggambarkan hatimu. Setiap langkah caturmu menggambarkan tindakan apa yang ingin kau ambil. Sama dengan saat kau membiarkan bidak caturmu termakan sia-sia. Itu menggambarkan bahwa sebenarnya kau tak menginginkan menyelamatkan kakakmu. Lalu kau memakan kudaku, sama dengan keinginanmu untuk membunuh ayahmu.”
Setetes air mata lagi menetes dari mataku. Aku mencerna kata-katanya.
“Tapi...” kataku lirih, rasa sakit ini mulai tertahan. “Kenyataannya aku menolong kakakku 'kan!? Kau yang bilang! Aku mati saat menolong, dan... aku... tidak membunuh ayahku kan?”
“Tapi kau menyesal.”
“Me...nye...sal?” aku menggeleng, dan saat itu kurasakan tombak kembali tercabut dari dada dan punggungku. Rasa sakitnya membuatku muntah darah.
“Ya. Kau menyesal telah menolong kakakmu. Kau mengatakan itu di saat penentuan dimana akhirmu, apakah surga atau neraka.” Suara Jibril bergema di telingaku, “Kematianmu memang suci, tapi kau tidak ikhlas.”
Aku meratap. Rasa perih dan panas masih menggerayangi tubuhku.
“Majukan bidak caturmu. Ini giliranmu!”
Kepalaku sudah tak sanggup berpikir lagi, tapi tanganku masih bisa bergerak. Akhirnya kumajukan satu langkah kudaku ke hadapan raja. Jibril menatapku, lagi-lagi tampak misterius.
“Itu langkahmu?” kata Jibril samar, “Kau memang tak belajar dari kesalahan, rupanya,”
Mata Jibril bersinar lagi, namun kali ini aku sungguh takut menatapnya. Aku telah mencoba berpaling tapi siluet cahaya itu bergerak lebih dulu, merasuki mataku lagi dan membawaku ke tempat lain.
***
Sebuah bar di sisi kota. Lampu gemerlapan di setiap dinding dan atapnya. Banyak orang juga disana, pria dan wanita. Sebagian adalah orang-orang yang tak pantas, dengan pakaian minim yang memamerkan bagian tubuh yang harusnya menjadi privasi. Yang lainnya menggunakan perhiasan berlebihan. Ada anting di hidung, dagu dan juga tatto yang membalut nyaris sekujur tubuh. Mungkin ini memang mode di zaman ini, tapi aku tak mengerti dimana sisi baiknya.
Perlahan, visiku merayap memasuki bar. Sama seperti sebelumnya, tak ada yang melihatku dan tak ada yang mendengarku. Aku berjalan masuk bar sebagai penonton, menembus orang-orang yang berlalu lalang serta menunggu apa yang akan diperlihatkan Jibril disini.
“Dimana Key?” seorang pria muda berkepala plontos bertanya pada pelayan bar.
Si pelayan tak berbicara, hanya menunjuk satu meja bundar di ujung bar yang dipenuhi wanita-wanita liar, mungkin... pelacur.
Si pria plontos segera berlari dengan sigap ke tempat itu, lalu disambut dengan antusias oleh pria pucat berjaket kulit yang segera berdiri dari tempatnya duduk. Pria pucat yang kuyakini adalah aku.
Aku mulai mengerti apa maksud Jibril tentang kesalahan langkahku. Ya, aku berada di jalan yang salah. Aku berada di bar, menenggak minuman keras bersama wanita-wanita hina yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.
”Key, “ kata si pria plontos, tampak terburu-buru. “Ada polisi di luar, kayaknya lagi nyelidikin kasus loe sebulan lalu...”
“Ha!? Polisi!?” Key yang mabuk kaget luar biasa. “Gimana sih!? Semua bukti udah loe samarin ‘kan, terus mayat bokap gue juga udah loe lenyapin ‘kan!? Mana bisa polisi dapetin jejak gue!?”
Si pria plontos menenangkan Key, menyuruhnya duduk dan mengusir wanita-wanita liar di sekitar bangku itu. Kini mereka hanya berdua, duduk dan bicara setengah berbisik.
“Kayaknya ada yang bocorin, Key!” si pria plontos memulai. “Ada yang berkhianat dan ngasih tahu semuanya ke polisi!”
“Oke. Oke. Itu nggak penting, bisa kita urusin nanti... Sekarang –“ Key tampak syok seketika, seperti melihat bayangan trauma masa lalunya. “Ah! Arggh!”
“Key, tenang Key... Kamu bisa narik perhatian kalo kayak gini, oke!? Ya, bagus... tenang...” si Pria plontos terus berusaha menenangkannya. “Tapi kalo boleh gue tahu, kenapa loe bunuh bokap loe waktu itu sih!?”
Mata Key berlinang, dan perlahan air mata menetes melewati wajah pucatnya.
“Nggak. Gue nggak bisa cerita... gue nggak sanggup...”
Dan tepat pada saat itu satu regu polisi masuk dengan senjata siaga di kedua tangan mereka. Menyergap dan meringkus tanpa ampun. Hingga siluet cahaya kembali menyelubungi segenap visiku, satu sensasi yang sama seperti sebelumnya kurasakan kembali.
***
Kursi neraka ini terbakar lagi dan memanggang kulitku, aku kembali berteriak pedih. Bahkan, teriakanku mengalahkan raungan langit-langit yang berisikan iblis.
“Kau sudah melihat kesalahan langkahmu ‘kan?” Jibril berkata lagi, gemanya terdengar berulang. “Alih-alih bertobat, kau justru semakin terjerumus ke dunia hitam. Ini sama persis dengan laju kuda caturmu yang tak terarah,”
“Tapi –! Sudah kukatakan, aku tidak melakukan semua itu! Kau yang bilang kalau aku belum melakukannya ‘kan!? Kau tidak berhak menghukumku atas sesuatu yang belum kulakukan!!!” suaraku tak lagi lirih di Neraka ini, melainkan terdengar amat keras, seperti raungan iblis jahat dalam fantasiku.
“Aku berhak!”
Suara Jibril memadamkan emosiku, gema suara itu pun merayapi telingaku dan membungkam mulutku. Aku terdiam seketika.
Dan hening sesaat, raungan berhenti, siksaan berhenti, Neraka pun seolah mati
“Baiklah, ini giliranku,” kata Jibril memecah keheningan, “...pastikan kau memikirkan dulu langkahmu berikutnya, Key.”
Jibril berpikir, ia tak langsung memajukan bidak caturnya.
“Jibril...,” kataku. “ Tapi, kenapa aku membunuh ayahku? Aku belum mendengar alasanku sendiri pada visi itu...”
Jibril menatapku lagi penuh arti, tapi tak ada siluet cahaya dari matanya kini.
“Pikirkanlah. Itu dirimu, Key... hanya kau yang mengerti jelas apa alasannya.”
“Tapi –“
“Sudah.” Kata Jibril “Aku sudah memajukan bidakku, sekarang giliranmu,”
Jujur, aku tak melihat bidak mana yang dimajukan Jibril. Apakah ini juga bagian dari langkahku di dunia? Aku akan tak melihat gerakan musuhku? Entahlah, kumajukan bidakku yang paling mungkin untuk menekan musuh.
“Jibril, aku memang sedikit membenci ayahku. Kelahiranku merenggut nyawa ibuku, dan ayah sering menyalahkanku atas itu. Ini membuat Rai, kakakku, selalu menjadi anak kesayangannya. Sejak kecil ayahku seolah tak mengharapkanku di dunia. Aku sering diacuhkan sementara ia bekerja dari pagi hingga malam. Jika pun bertemu paling aku hanya dimarahi karena nilai-nilai sekolahku yang jelek. Dan...”
Jibril memajukan lagi buah caturnya, entah yang mana. Lalu ia memintaku untuk melangkah juga. Aku melangkahkan patihku dengan hati-hati, tak terjadi apapun.
“Itu artinya kau iri.” Kata Jibril.
“Iri pada kakakku?” kataku, Jibril mengangguk.
Ia memajukan patihnya untuk memakan satu bidak caturku, tak terpikirkan olehku sebelumnya.
Sekejap mata, bara api dari langit-langit berjatuhan menggores tubuhku. Aku terbakar lagi oleh bara api itu, mengernyit lirih dan kutatap Jibril. Lagi-lagi, ada siluet cahaya disana yang merasuk mataku. Jibril membawaku ke tempat lain lagi.
***
Jasad si pria plontos tergeletak tak berdaya di kantor polisi. Ada dua peluru yang menembus dadanya. Juga noda darah yang awalnya tentu mengalir dari dada itu, tapi kini telah mengering, meninggalkan si plontos dengan wajah yang berubah pucat pasi. Ia telah mati.
Di sisi si plontos, ada beberapa polisi yang sedang berdiskusi, juga beberapa wanita liar yang dijaring dari bar. Beberapa pasangan juga tengah diinterogerasi, beberapa dengan kekerasan yang sebenarnya tak perlu karena mereka tak berbahaya.
Aku mencari dimana aku yang lain, Key, maksudku, yang semalam tengah bersama si plontos. Apakah ia juga tertembak dan mati, ataukah ia kabur dan menjadi buron lagi?
“Key Arthawinata, itu nama lengkapku.” Terdengar suara dari satu ruangan kantor polisi, aku segera menyusul.
Ya, itu memang suaraku. Aku tengah diinterogerasi di ruangan terpisah untuk kasus yang lain. Kasus yang kutahu pasti, pembunuhan ayahku sendiri.
“Katakan alasan jelas tentang motif pembunuhan ayahmu?” polisi itu bertanya.
“Karena aku membencinya,” aku menjawab dengan lugas, seperti telah terlatih sebelumnya, atau kalimat itu telah tertanam permanen di otakku.
“Kenapa membencinya? Aku menginginkan jawaban jelas.” Kata si polisi itu lagi.
“Aku membencinya karena ia membenciku lebih dulu! ...Kau menginginkan jawaban jelas!? Baiklah, aku akan bercerita panjang lebar agar kau puas! Lima atau enam tahun yang lalu, ada kecelakaan truk menabrak pos ronda. Mungkin anda ingat, seorang remaja tewas dalam kecelakaan itu. Itu adalah kakakku. “ ia berhenti sebentar.
“Sebenarnya aku bisa menolongnya,” lanjutnya, “Tapi aku tidak menolongnya karena..., kupikir, ya, dia adalah rivalku. Dia adalah orang yang selalu merebut semuanya dariku. Dia merebut kasih sayang ayahku, dia merebut gadis yang kusukai, orang-orang terdekatku... semua. Dia juga memiliki talenta yang luar biasa, juga ketampanan dan daya pikat, uh, aku benci mengakuinya! Ia selalu mendapatkan pujian dari semua orang, sementara aku!? Kau tahu!? Aku hidup hanya untuk menjadi pembandingnya di dunia ini! Aku, Key Arthawinata, ada hanya untuk membuktikan pada dunia bahwa dialah anak terbaik ayahku. Aku selalu dicaci maki sementara ia mendapat segala pujian... hingga, di kecelakaan itu, aku membiarkannya tertabrak truk sementara aku masih sempat menghindar.”
“Dan hubungannya dengan...”
“Ayahku membenciku sejak saat itu!!!”
Suara Key bergema amat keras hingga menggetarkan seluruh ruangan.
“Lima tahun! Bayangkan... lima tahun ayahku sendiri menuduhku sebagai pembunuh kakakku padahal itu hanyalah kecelakaan! Lima tahun pula ia mengasingkanku dan menjadikanku seperti... ah, seperti outcast!!! Dan... puncaknya, saat itu..., ia bilang pada pacarku... ‘Kamu menantu yang sempurna, Anitha, seandainya saja Rai’, kakakku, ‘nggak dibunuh, pasti kamu udah saya nikahkan dengan Rai, anakku satu-satunya...’”
“Yang benar saja!!!” lanjut Key, “Aku pacarnya Anitha dan dia bilang akan menikahkan pacarku itu dengan kakakku yang sudah mati! Dan dia bilang kakakku itu anak satu-satunya! Dan dia bilang juga kalau aku yang membunuhnya! Ayahku pantas kubunuh!!!”
Dalam emosinya, kulihat Key menerjang sang polisi yang duduk, tapi lalu segera ditahan oleh polisi lainnya yang berada dalam posisi berdiri. Secepat kilat, Key merubuhkan polisi yang menahannya itu, membantingnya ke lantai dan mencabut senjata di pinggang polisi itu. Petugas lainnya yang berada di ruangan itu berhenti ketika Key segera menodongkan senjatanya ke arah mereka.
“Berhenti!!!” Key berteriak, dan setengah tertawa dalam kegilaannya. “Takkan kubiarkan Key yang ini menjadi tahanan dan kembali terasing... akan kuperlihatkan pada –“
Pistol meletus. Aku mengerjapkan mataku. Satu polisi tumbang oleh timah panas dari pistol di tangan Key. Suara letusan kembali terdengar, Key menembak membabi-buta. Tapi polisi-polisi itu tak sempat melawan, sebagian besar dari mereka telah jatuh lebih dulu. Mungkin Key terlalu tangguh...
Tapi itu diriku, dan aku... membunuh lagi, membunuh polisi-polisi karena kegilaanku sendiri. Aku penjahat. Aku penjahat besar dan... jika memang seperti itu, aku pantas berada di Neraka.
Saat kupejamkan lagi kedua mataku, letusan telah berhenti. Tapi apa yang kulihat disana, bukanlah hanya polisi yang tertembak.
Seorang gadis, rambut panjang ikal membingkai wajahnya yang bulat. Tinggi semampai dengan celana jeans ketat yang feminim. Baju putih yang indah. Kulit yang terang pula, tapi dahinya... Terlihat lubang di dahi itu, lubang peluru yang mengalirkan darah segar. Key berteriak.
“ANITHA!!!” ia berlari menghampiri gadis itu, Anitha.
Pistolnya terjatuh dari genggaman. Pistol itu... tangan itu... dialah yang telah menembak Anitha.
Dan suara letusan kembali terdengar saat ia berlari. Yang kulihat jelas, seorang polisi segera menembak mati pembunuh itu. Hingga siluet cahaya kembali menyergap visiku...
***
“Skakmat.” Kata Jibril
Aku masih memejamkan mataku, aku hanya mendengar suara Jibril dari telingaku.
“Langkahku tadi, itu skakmat bagimu, Key. Kau kalah.”
Aku tak berani membuka kedua mataku, aku takut akan siksaan Neraka apa lagi yang ditunjukkan Jibril. Aku takut pada api dan raungan yang akan ditunjukkannya. Aku hanya mendengar.
“Key? Kenapa kau? ...eh? Key!!! Sadar!!! Loe nggak pingsan ‘kan!?”
Nggak!!! Nggak mungkin..., ini bukan suara yang barusan, ini bukan suara Jibril. Aku amat mengenal suara ini dan ini... nggak mungkin!
Perlahan kubuka kedua mataku. Tapi bukan Neraka yang kulihat disana..., bukan juga Surga yang indah. Bukan hukuman, dan bukan pemberian. Tapi ini dunia nyata.
Aku berada di sisi jalan besar yang sepi, di pos ronda dan hari sudah larut malam. Di hadapanku ada sebuah papan catur yang tengah dimainkan. Sudah skakmat, aku kalah sebagai hitam. Dan menemaniku bermain..., mustahil, itu Rai, kakakku.
Itu Rai... ia hidup, dan... aku juga hidup. Lalu apa yang barusan kulihat? Surga apa? Neraka apa? Jibril apa? Apakah ini mimpi?
“Key?” Rai mengibaskan tangannya ke mukaku, “Kamu nggak ngelindur ‘kan? Lupa ya? Kita lagi ronda nih, ngegantiin ayah yang lagi halangan hadir, kerjaannya di kantor banyak banget sih...”
Aku terdiam hening. Ini nyata. Aku sungguh bahagia, seolah aku baru ingat bahwa diluar orang-orang yang sering membandingkan aku dengan Rai, sebenarnya kakakku itu orang yang baik dan menyayangiku.
“Yah, Rai... main lagi?”
“Oke.” Kata Rai antusias. “Semangat banget nih yang lagi ulang tahun ke lima belas...”
Ulang tahun ke lima belas...
Aku syok. Kalimat itu terulang lagi di benakku:
Ulang tahun ke lima belas...
Ulang tahun ke lima belas...
Ada suara truk besar dari tikungan jalan, aku menengok. Ada truk. Sebuah truk yang besar dengan lampu menyala menyilaukan mataku, tapi sinar lampunya menunjukkan bahwa sang pengemudi itu kehilangan kendali. Kurasakan bahwa sepertinya benturan akan terjadi beberapa detik lagi...
Tiga...
Aku meloncat keluar dari pos.
Dua...
Truk itu semakin dekat, kakaku berusaha berdiri.
Satu...
Kakakku nyaris mencapaiku, aku hanya perlu menariknya keluar dari pos.
Nol...
Tidak. Menariknya bukanlah gayaku, maka kubiarkan ia tergilas bersama pos ronda yang segera hancur porak poranda dilewati truk.
***
Aku berdiri ditempatku, melihat Rai tewas dihadapanku dengan jasad yang tak berbentuk lagi. Batinku berteriak lirih, aku bertanya-tanya apa yang mungkin akan terjadi setelah ini... Apa yang akan dikatakan ayahku padaku... Apa yang kulakukan terhadapnya...
Tapi, kurasa aku tak perlu bertanya lagi, karena aku sudah tahu cerita lengkapnya dengan jelas.
“Jibril, terima kasih sudah mengajakku bermain. Tapi kurasa aku lebih merindukan Neraka.”
***

