Jumat, 26 Februari 2010

KRITIK SASTRA INDONESIA


“Potret Keluarga”, Transformasi Sukab, dan Seno Gumira Ajidarma
Oleh Muttaqin Zaenal*

Ketika kita tua, maka yang terbayang adalah keindahan-keindahan yang tercipta di masa muda. Terbayang pahit dan getirnya menjalani hidup. Keluarga. Kita pasti ingat, bagaiman Ibu kita mengajari tentang menjahit, mengajari kita agar bersikap tenang, sopan, dan sabar. Kita teringat bagaimana Ayah kita berlaku adil kepada semua anggota keluarga, dan saudara-saudara kita yang penuh dengan keceriaan, keriangan, dan keindahan.
***
Paragraf di atas sekelumit tentang isi dari cerpen “Potret Keluarga” buah karya Seno Gumira Ajidarma yang ditulis pada tahun 1994 dan dimuat di majalah Warta Bumiputera 12/XXI/ Juli-Agustus 1994. Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston 19 Juni 1958. Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga.
Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
***
Cerpen ini mengingatkan kita pada keluarga. Berkisah tentang seorang perempuan, Marni, yang sedang memandang Potret keluarga yang di pajang pada dinding rumahnya. Dalam Potret itu, Ayah membaca koran sambil mendengarkan radio, Ibu menjahit, Budi belajar, dan dirinya sendiri meninang-nimang boneka. Potret keluarga itu terletak di dinding, di antara potret-potret keluarga yang lain. Potret  keluarga yang berwarna coklat tua, agak menguning, tapi sangat terpelihara.

Secara pengaluran, cerpen ini bersekuen ingatan yakni sorot balik (ingatan penuh). Ketika Marni melihat potret itu,  ia jadi teringat kembali bagaimana potret itu dibuat. Kala itu, paman Sukab datang membawa sebuah tustel tua merek Leica. “Ayo! Ayo! Foto dulu!” Ayah dan Ibu  ketika itu akan beranjak, tapi Pman Sukab menahannya. “jangan! Jangan berdiri! Sudah duduk begitu saja, ini bagus sekali”. Awalnya Marni yang sedang menimang-nimang boneka tak mengerti, tapi kini Marni sangat paham mengapa paman sukab menahannya. Potret zaman sekarang tidak lagi jujur, semua berjajar, senyum yang dibuat, berdiri menghadap kamera. Paman sukab tidak menghendaki itu, karena dengan foto yang natural, tidak dibuat-buat, akan terasa hidup kembali bila kita melihatnya.

Mengapa Sukab? Ini sebuah pertanyaan yang terlintas dalam benak pembaca yang sering membaca karya Seno Gumira Ajidarma (SGA). Ya, cerpen “Potret Keluarga” pun ada  tokoh yang bernama Sukab, yakni pamannya Marni. SGA lebih sering menggunakan nama Sukab sebagai tokoh dalam cerita-cerita pendeknya. “Potret Keluarga” ini ada dalam kumpulan cerita pendek SGA “Dunia Sukab, sejumlah cerita1. Ia mengawali dalam catatan penulis, serba-serbi Sukab. Seberapa pentingkah asal-usul Sukab? SGA tidak tahu. Nama Sukab pertama kali SGA dengar ketika ia belum pernah menulis. Seorang kawan menyebut nama itu (dengan ejaan yang lebih terdengar sebagai “Sukap”) sebagai nama salah seorang anggota Bengkel Teater pimpinan Rendra. SGA tidak mengenal “Sukap” ini, namun bunyi “Sukap” terdengar sangat enak di telinga, dan selalu teringat ekspresi wajah kawannya itu ketika menyebut bunyi “Sukap”.  Ia tidak tahu dan tak sadar pengalamannya pertama kali menggunakan nama itu dalam karyanya, nama itu suka muncul setiap kali membayangkan sosok “rakyat”. SGA memang sering bercerita tentang sosok “rakyat” dalam karya-karyanya. Sukab bisa menjadi seorang nelayan, bisa menjadi preman pasar, bisa menjadi seorang pemimpi, bisa menjadi rakyat yang menjelma menjadi pejabat, dan bisa menjadi Sukab-Sukab lain yang belum pernah ia tulis.

“Potret Keluarga” menjadi sebuah imaji kehidupan yang tak lepas dari keluarga. SGA menggambarkan sosok Paman Sukab yang mengerti keindahan sebuah potret keluarga.      
“Ketika lampu kilat kamera Paman Sukab berpijar, mereka tidak ada yang memandang ke arah lensa. Ayah membaca koran sambil mendengarkan radio. Ibu menjahit. Budi belajar. Marni menimang-nimang boneka.”
Jelaslah bahwa itu sebuah potret yang jujur. Tidak berdiri berjajar-jajar menghadap kamera, dengan jas, dasi, dan kain kebaya (supaya terihat mewah dan kaya) seperti potret keluarga masa kini.
Lahirnya keluarga tak lepas dari peran seorang Ibu.
“Kecantikan seorang wanita bukan di wajahnya Marni, tapi dalam kepalanya, otaknya,” kata Ibu selalu.
Dan Ibu memang bukan hanya cantik wajahnya, tanpa akal dalam kepala Ibu, penghasilan Ayah tak akan cukup untuk membeli tanah, membangun rumah, mengangsur radio, serta menyekolahkan Budi dan Marni sampai lulus dari perguruan tinggi. Ibu selalu punya akal untuk mengatasi kesulitan keuangan, menyelesaikan masalah keluarga, dan membereskan tetek bengek rumah tangga. Marni kagum pada Ibu.”
Seorang Ibu pasti akan menjadi solusi dalam setiap masalah. Ia mempunyai banyak pilihan dalam memilih penyelesaian yang dianggap lebih baik dan tepat untuk sebuah keluarga.

Potret keluarga hanyalah sebuah potret, yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang diam. Akan tetapi, sebuah potret keluarga akan menjadi sebuah kehidupan yang selalu mengajarkan bagaimana pentingnya sebuah kelurga di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Dengan “Potret Keluarga” kita akan sangat menghargai orang-orang terkasih kita.

Pada akhirnya, Marni yang sudah mempunyai Fahmi sebagai suami, dan anak-anak, dan sudah mulai beruban, teringat Budi, adiknya, yang dalam foto itu sedang belajar, berkutat dengan soal-soal, kini Budi berubah menjadi garang. Marni tidak tahu di mana ia sekarang. Ia berpindah-pindah dari suatu tempat yang berbeda. Menjadi pengembara politik tidaklah selalu menyenangkan. Bahkan tidak datang ketika pemakaman Ibu dan Ayahnya. Ia sudah terlalu membenci Indonesia.

SGA mengungkapkan sebuah cerita dengan gaya yang lugas. Tidak begitu penting sebuah metafor-metafor yang diciptakan. Melainkan sebuah tema yang ada di tengah-tengah kehidupan. Apalagi  dengan sebuah suguhan cerita keluarga sederhana, yang sangat jauh berbeda dengan keluarga masa kini. Dengan analogi sebuah potret, SGA membandingkan keluarga yang benar-benar jujur dan tak jujur, dan semua tentang sebuah keuarga sederhana.

Sukab dan Seno, mengajarkan kita  tentang sebuah keluarga.




Catatan:
*Mutaqin Zaenal, lahir di Serang, 24 Februari 1989. Sedang menyelesaikan studinya di Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergiat di Aksaran. Puisinya tergabung dalam buku antologi puisi Para Penyair Muda (Partere Production, 2009).

1Dunia Sukab, sejumlah cerita. Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Juli 2001.



*Zaenal Muttaqin, lahir di Serang, 24 Februari 1989. Sedang menyelesaikan studinya di Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penggiat linguistik dan penikmat sastra. Puisinya tergabung dalam buku antologi puisi Para Penyair Muda (Partere Production, 2009). 

Selasa, 30 Juni 2009

JUARA LOMBA CIPTA CERPEN PIALA BALAI BAHASA GBSI UPI 2009

ABSTRAK

“Langkah Catur Jibril...”
OLEH MUHAMMAD ARIF RIDWAN


Jibril mengisap cerutunya, lalu menghembuskan asap tembakau yang berputar lembut melewati bidak-bidak catur yang terjaga di atas papannya. Apakah ini suasana surga? Jibril sungguhan yang bermain catur seraya menghisap tembakau? Kuharap aku hanya bermimpi.

***

“Inilah tempatmu, duduklah dan jalankan bidakmu...” suara itu menegurku, atau mungkin lebih tepatnya memerintahku.

“Siapa kau?” tanyaku, ditujukan pada pemilik suara itu, seorang pria muda berwajah cerah dan mata yang jernih.

Pria itu tersenyum.

“Aku tidak berhak. Aku hanya mengantarkanmu, Key...” katanya.

Aku terus memperhatikannya. Pria itu berbalik dan melangkah menghilang di balik kabut putih yang pekat. Beberapa saat setelahnya, kabut itu menipis, lalu lenyap. Sebuah bukit hijau terbentang luas di tempat menghilangnya sang kabut. Di puncaknya terdapat istana megah yang berkilau unik. Intan? Marmer? Bukan... Istana itu tampak tersusun dari bebatuan yang jauh lebih unik, kau takkan bisa membayangkan seperti apa cahayanya. Sekilas, istana itu bercahaya violet bercampur perak, tapi lalu kau akan sadar bahwa cahaya itu bukanlah violet, mungkin cyan... atau bahkan berwarna keemasan. Dan tidak, warnanya berubah setiap kali kau memandangnya.

“Key, apa kau akan memandangi istana itu terus?” satu suara mengejutkanku dari belakang. “Tidak melupakanku di sini ‘kan?” lanjutnya, lalu aku berbalik menghadap pemilik suara itu.

Seorang pria berkontur muka kotak, dengan tubuh cukup kekar yang terbungkus jubah putih panjang. Ia duduk santai di sebuah bangku kecil, bangku catur. Di hadapannya, papan catur dan bidaknya telah tersusun rapi, siap bermain. Sedangkan kursi pemain di hadapannya masih kosong. Dan tanpa diberitahu, aku pun mengerti, akulah lawan bermainnya.

“Kenapa? Kau bingung?” tanyanya. Suara pria itu begitu kokoh dan berwibawa, ada gema pula yang seolah mengulang perkataannya.

“Bukan,” akhirnya aku bicara, seraya menggerakan tubuhku untuk duduk perlahan di hadapannya.

Ia mengangkat sebelah alisnya.

“Aku hanya tidak mengerti.” lanjutku. “Di mana aku?”

“Kau sudah tahu di mana, Key,” jawabnya singkat.

Aku ragu. Kulihat lantai pualam yang menjadi tempat kursi kami berpijak, cahayanya seperti bintang di langit malam. Kutatap lagi luasnya bukit yang ada di belakangku, bukit itu luas tak terbatas. Jauh pula, namun terasa begitu dekat. Bahkan dari jarak mataku memandang pun aku dapat melihat bunga-bunga bermekaran dalam ragam warna yang indah. Diantaranya, mengalir sungai jernih yang disisinya menyala kunang-kunang. Sungai itu mengalir dan tampak sebuah danau sebagai muaranya. Di atas bukit, langit meneduhi, tapi bukan berwarna biru ataupun jingga melainkan warna-warna serupa pelangi yang tipis, bergerak mengalir tanpa ada cahaya matahari. Aku tercengang, lagi... dan lagi.

“Tidak mungkin,” sanggahku. “Aku bukan berada di...”

“Ya,” potongnya...

“Kau ada di Surga. Dan aku Jibril, atas nama Yang Maha Kuasa aku menantangmu bermain catur.”

***

Bidak catur itu telah berada di posisinya masing-masing, seperti biasa, menunggu pemainnya berpikir dan menggerakkannya untuk saling berperang. Satu hal yang biasa, ya... Tentu, aku sudah terbiasa bermain catur dan menang dalam segala permainan. Aku ahli. Dan aku tak takut untuk bermain catur dimanapun, siapapun lawannya. Tapi kali ini berbeda! Aku bermain di Surga, aku bermain dengan Jibril...

“Mustahil!” aku mengerang.

Jibril menatapku heran seraya kembali mengisap cerutunya. Aku tak menghiraukannya, tidak sama sekali. Yang kuyakin, ini tentulah hanya sebuah mimpi. Aku belum mati. Aku pasti hanya tertidur dan mendapati sebuah mimpi fantastis yang bahkan diluar fantasi terhebatku. Surga? Jibril? Yang benar saja!

“Kau tidak bermimpi.” Kata pria yang mengaku Jibril itu.

Aku tercengang lagi mendapatinya seolah membaca pikiranku. Kutatap matanya dengan tajam. Tidak... tak ada kebohongan disana.

“Tapi aku tak mungkin berada di Surga. Aku belum mati.” Ujarku.

Ia tersenyum, tampak geli mendengar ucapanku. Sedangkan aku mengerung, ini sungguh-sungguh diluar akal sehat.

“Sayangnya tidak. Kau sudah mati, Key. Kau hanya lupa kapan dan bagaimana...” ia memajukan bidak kecil dihadapan raja satu langkah, “Ayolah, kita harus bermain. Ini perintah Yang Maha Kuasa.”

Kumajukan bidak caturku dengan sembarang, aku masih tak mengerti atas semua keanehan ini.

“Kau berbohong,” kataku. “Kau tak tampak seperti Jibril...”

“Apa maksudmu? Memangnya kau pernah melihatku sebelumnya?” jawabnya santai, jemarinya bergerak memajukan patih menyerong melewati raja.

“Tidak” jawabku. Aku tidak mempedulikan caturnya, dan lagi-lagi, aku memajukannya dengan sembarang. “Tapi kau bahkan tak terlihat seperti malaikat-malaikat yang kutahu..., kau tak punya sayap, kau tak punya lingkaran emas diatas kepalamu... dan, emm, ya, mana cahaya yang harusnya keluar dari tubuhmu!? Belum lagi kau malah menghisap cerutu, malaikat macam apa seperti itu...”

Aku bersikeras meyakinkan diriku sendiri bahwa ini semua hanya mimpi, dan aku akan segera terbangun jika sudah waktunya. Tapi bagian lain dalam diriku ini berkata lain. Ini nyata, ini sungguhan... Ini surga, dan itulah Jibril, yang ada dihadapanku.

“Jadi menurutmu seperti itulah keadaan malaikat?” kata Jibril, ada gema lagi yang mengulang suaranya. “Baiklah...”

Sebuah siluet cahaya menembus mataku, aku merasakan seolah buta sesaat. Hingga cahaya itu memudar, kudapati bayangan Jibril telah berdiri di hadapanku, tampak lebih besar. Diiringi bunyi berderak, sepasang sayap putih menyala terbentang dari punggungnya, diikuti oleh terbentuknya lingkaran emas di atas kepalanya.

Aku merasakan tubuhku membeku, juga otakku, telinga dan bibirku... Kusaksikan pria itu mengubah wujudnya, begitu cepat dan drastis. Begitu akurat pula, ia menyamakan pikiranku dan bayanganku tentang rupa sesosok malaikat. Ini lebih dari sekedar menakjubkan, membuatku tak bisa berkata apapun lagi.

Perlahan, Jibril kembali duduk... meski kini tampak agak direpotkan oleh sayapnya. Tapi semua ini tetap menakjubkan. Aku berhadapan dengan malaikat sungguhan, dengan Jibril sungguhan. Ini membuatku merasa merinding yang tak terutarakan, entah perasaan apa, seperti ada getaran listrik di sekujur tubuh. Membuat syok dan lemah.

“Kenapa lagi?” tanya Jibril seraya membuang cerutunya, lalu kini ia menampakkan ekspresi yang begitu naif. “Bukannya ini sosok malaikat yang ada dalam pikiranmu...?”

“Y-ya,” aku tergagap, “Tapi, ...emm, bagaimana kau bisa begitu cepat..., melakukan itu? Apa, maksudku..., apakah ini memang wujud aslimu?”

Percaya atau tidak, Jibril tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaanku ini.

“Bukan.” Jawabnya. “Ini bukan wujud... asli, tentu. Aku tidak berwujud di mata manusia karena mereka itu nyata sedang aku sesuatu yang ghaib. Tapi aku bisa saja menampakkan wujud asliku padamu, karena kau sudah mati... kau menjadi ruh sekarang, dan itu berarti kau juga ghaib sama sepertiku.”

Entah kenapa aku masih belum bisa menerima disebut telah mati. Tapi aku menahan diriku agar tetap diam.

Ia memajukan lagi bidaknya, kali ini memakan bidakku yang sama sekali tak kujaga.

“Jibril, masih ada pertanyaanku yang lain,”

“Ya?”

“Kenapa aku ada disini? Kenapa aku diantar kesini..., dan bermain catur denganmu. Apakah ini yang disebut akhir? Sebuah catur?”

Jibril diam. Aku ragu ia tak mengerti maksud perkataanku. Atau mungkin perkataanku kurang terdengar? Tidak, kurasa. Di tempat ini hanya ada kami berdua, tak ada orang lain, malaikat lain, dan suara lain yang bisa menyamarkan suaraku.

“Emm, begini maksudku,” kataku lagi. “Jika ini memang surga, kenapa disini aku harus bermain catur? Bukankah ini tempat terindah di jagad raya? Ini tempat akhir dari perjalanan panjang setiap insan di bumi ‘kan? Lagipula... bagaimana bisa di Surga ada sebuah papan catur, bukankah ini mainan di bumi? Tentu ada alasannya ‘kan..., Jibril?”

“Kau benar. Ini memang satu hal yang luar biasa, kau tahu?”

Menunggunya bicara, kumajukan gajahku menyerongi bidak yang sebelumnya kumajukan.

“Tak pernah ada satupun orang yang menduduki kursi tempatmu itu sebelumnya. Tak pernah. Tapi kau, dan aku, kini duduk disini atas perintah Yang Maha Kuasa. Lebih tepatnya, aku diperintahkan untuk mengajarimu beberapa hal penting”

“Mengajariku? Tapi untuk apa –“

“ –ssst. Kau akan tahu sebentar lagi,” jemari Jibril melajukan kudanya melangkahi bidak, “ dan kini giliranmu, majulah...”

Hawa surga bergejolak di sisiku, dan kulihat juga kabut kembali menebal menutupi pemandangan sekitar. Dari jauh, mulai terdengar suara-suara gaduh. Aku tak tahu apa, ini adalah suara yang tak kukenal sebelumnya. Benakku berpikir bahwa ada sesuatu yang yang seolah membuat surga kehilangan keseimbangannya, dan aku tidak menyukainya.

Kutatap bidak-bidak caturku, dan untuk pertama kalinya aku mulai sungguh-sungguh memikirkan permainanku sendiri. Hitam. Ya, ternyata aku bermain sebagai hitam. Beberapa bidakku telah maju, dan gajahku juga telah menyerong cukup jauh. Sementara Jibril, sebagai putih. Satu bidak telah maju dua kali, juga satu patih dan satu kuda. Kuda itu dapat kumakan dengan gajahku, tapi tentu gajahku akan dimakan kembali oleh bidak dibelakangnya. Aku berpikir. Tidak, aku tak perlu berpikir lagi... dengan membiarkan bidak itu memakan kudaku itu akan membuka pertahanannya sekaligus menghambat laju bidak yang lainnya. Ya, aku memang ahli.

“Ayo, majulah,” kata Jibril, aku tersenyum.

Seperti rencanaku, kumajukan kudaku untuk memakan gajahnya. Tapi ini sungguh diluar imajinasiku, segalanya berubah. Surga berubah.

***

Perlahan, gajah catur melaju serong dengan tujuan yang pasti. Perlahan, sebuah kuda catur terangkat dan posisinya tergantikan oleh sang gajah catur. Perlahan, kuda catur itu ditaruh di sisi papan catur sebagai pecundang. Dan perlahan pula, satu senyuman tersirat untuk menyiapkan strategi berikutnya.

Tapi tidak perlahan, Surga telah berubah menjadi Neraka...

Langit dengan warna pelangi yang indah telah berganti dengan langit-langit kelam berwarna merah menyala. Tapi warna merah menyala bagai bara api tak cukup mengejutkanku. Di langit-langit itu, bertahan jasad-jasad serupa manusia yang telah hitam legam terpanggang bara api. Jasad-jasad bernanah kental kekuningan yang saling bertumpuk satu sama lain. Kaki yang satu menutupi kepala yang lainnya, dan kepala yang satu menutupi kaki yang lainnya. Ada pula bagian-bagian yang sungguh terpisah dari bagian lainnya. Semuanya nyaris kehilangan bentuk, tapi itu tak cukup membuatku ngeri sebelum kulihat mereka tidaklah mati ataupun diam... Ya, mereka hidup dan bergerak. Suara mereka meraung memekakkan telingaku, air liur dan darah mereka masih bisa menetes membanjiri tempatku terduduk, dan semuanya bergerak bersusah payah untuk berada tepat diatasku.

“Key!!!” makhluk-makhluk di langit-langit itu memanggilku seolah tertarik dengan penghuni baru.

Aku menatap Jibril, bermaksud menanyai di mana kami sekarang, tapi kusadari tak ada lagi kata-kata yang sanggup terlahir dari bibir ini.

Jibril hanya memberi intruksi untuk kembali melihat sekeliling. Tapi aku bertahan, aku diam tanpa menoleh kiri ataupun kanan. Langit-langit dipenuhi jasad hidup yang tak layak pun telah cukup membuatku ngeri, belum lagi suara iblis yang mereka keluarkan... Cukup! Aku tak bisa melihat yang lainnya!

“Key!!!” suara dari langit-langit terus memanggilku.

Hingga satu lengan besar mencengkram kakiku dengan amat erat. Bukan, cengkraman itu bukan hanya amat erat, tapi itu cengkraman yang bisa langsung meremukkan kakiku. Alih-alih melihat wujud tangan pencengkramnya, aku segera berusaha menarik kakiku. Tapi tak bisa! Kaki itu telah hancur, remuk... dan kini, tercabut dari tempurung lututku. Bersama rasa sakit yang muncul seketika, aku terjatuh dari kursiku. Aku berteriak!

Makhluk-makhluk besar berwarna merah menyala mencengkramku. Tubuh mereka terbalut pijar api seperti magma dari perut gunung. Mereka mengangkatku kembali ke kursi dengan telapak tangan mereka yang nyaris selebar punggungku. Dan saat mereka melakukan itu, aku merasakan dadaku, punggungku, tanganku dan sisa kakiku terbakar oleh pijar-pijar api yang juga terdapat di tangan mereka. Kuku-kuku mereka yang tajam juga menyayat kulitku. Aku terduduk lemas dengan luka di sekujur tubuh, darah bersimbah, namun aku sama sekali tak sanggup berteriak.

Di tempat dudukku, yang rasanya juga telah terbakar api, aku melihat sekeliling...

Ini tempat penyiksaan. Pembalasan. Neraka.

Tampak sepeti gua yang luas penuh lorong-lorong batu bara yang menyala. Berbagai makhluk dirantai disana-sini, entah manusia, entah iblis atau apa. Mereka dicambuk dan dirajam. Ditusuk dan dipenggal. Dibunuh dan dihidupkan kembali untuk kembali dibunuh sebelum akhirnya dihidupkan kembali dan akan kembali dibunuh pula, dan seterusnya. Ada nyala api dimana-mana, dan hanya itulah yang jadi penerang gua. Penerang yang membakar dan menyiksa. Ini... sadis.

Aku kembali menatap jibril, lagi-lagi, tak ada suara yang sanggup keluar dari bibir ini.

“Ini neraka. Jangan kaget, ya...”

Dengan segenap sisa tenagaku, kusanggupkan diriku untuk bicara, meski lirih.

“Apa maksudmu!? Kenapa... kita di sini!?”

“Sudah kubilang, kau akan mengerti... bahwa permainan ini adalah sebuah hukuman bagimu. Tapi bersamaku, dan langkah-langkah caturmu, mungkin kau dapat mengubah jalur hukumanmu...”

“A-apa maksudmu!? Hukuman apa! Jalur apa!”

Tatapan Jibril berubah, tajam, dan kini ada siluet cahaya menembus korneanya. Cahaya itu merasuk mataku dan mengaburkan penglihatanku. Sejenak, kurasakan panas dan sakit ini memudar, seolah semuanya hanyalah ilusi semata. Dan beberapa saat berikutnya, rasa sakit ini sungguh menghilang selaras rasa sejuk yang menyinggapi. Aku telah berada di tempat lain lagi.

***

Aku yakin ini adalah kamarku.

Ada ranjang dengan selimut yang bermotif bintang-bintang kuning. Ranjang itu terletak di sudut kamar dekat dengan lemari pakaian bercat pelitur. Di seberangnya ada pintu kaca menuju beranda. Lantainya putih dan agak mengkilat, memantulkan sedikit warna biru tua dari langit-langit. Lampu dinyalakan, tapi tak ada seorang pun disana.

Derap langkah terdengar dari sisi luar kamar, melangkah mendekati daun pintu. Dan sudah bisa ditebak pintu itu terbuka dengan menampakkan seorang pria di baliknya.

Remaja tanggung. Mungkin sekitar dua puluh tahun. Rambutnya berwarna hitam agak kemerahan, kurang cocok dengan wajahnya yang pucat pasi, juga kantung hitam yang terpampang jelas melingkari kedua matanya. Bibirnya tipis, sama pula pucatnya. Tapi secara keseluruhan ia bisa saja terlihat tampan jika raut wajahnya tak tampak begitu lelah seperti sekarang ini.

Aku belum pernah melihat pria ini sebelumnya. Tapi aku merasa pernah mengenalnya, mungkin hanya lupa, atau mungkin justru salah mengingat.

“Kamu siapa?” kataku, tidak... aku tak mendengar sepatah kata pun keluar dari mulut ini.

Ada apa dengan suaraku? Aku tak sempat memikirkannya. Karena kulihat pria itu mengacak-acak lemariku, ia membongkarnya seperti perampok. Aku segera berlari menghampirinya, bersiap untuk menghantamnya dengan tinjuku.

Kuayunkan satu kepalan tangan kearah kepalanya, tapi tak ada yang terjadi. Tidak, bahkan tanganku pun tak mengenainya, melainkan menembusnya seolah aku hanyalah angin lalu. Kuayunkan tanganku yang lain, meski aku sudah tahu pasti jawabannya. Tanganku yang satupun menembus pria itu. Apa? Apa lagi ini sebenarnya?

“Hei!” aku berteriak, dan lagi-lagi tak ada suara yang keluar dari bibirku.

Sementara pria itu masih terus menerus mengobrak-abrik lemariku, aku berusaha meminta pertolongan. Aku berlari ke muka pintu, dan aku berhenti ketika mendengar derap langkah lainnya dari tangga. Siapa lagi itu? Perampok lainnya?

Hening. Dan aku mematung di muka pintu, gelisah akan apa yang harus aku lakukan. Hingga kusadari suara langkah itu adalah suara langkah ayahku.

“Ayah! Ada orang aneh di kamar, “ lagi-lagi suaraku tak terdengar, dan hal aneh lainnya terjadi. Ayah... menembusku.

Ayahku berjalan cepat setengah berlari ke kamarku, dan ia seolah tak melihatku. Tak mendengarku, bahkan ia berjalan menembusku langsung menuju kamar.

Perlahan, seolah kepingan-kepingan puzzle yang tersusun di tempatnya, semuanya mulai menjadi jelas. Aku memang telah mati. Jibril, mungkin hanya memperlihatkanku tentang bayangan di rumahku saat sekarang ini.

Kini aku memilih tak bersuara. Hanya diam dan menyimak apa yang terjadi antara Ayahku dan pria ini. Apa mereka teman? Musuh? Siapa yang tahu...

“Key! Cukup!” Ayahku berteriak gusar, dan aku tercengang akan siapa yang dipanggilnya.

Key? Itu aku. Pria yang mengobrak-abrik itu adalah aku. Berarti apa maksud semua ini? Jibril memperlihatkanku tentang kenangan yang kulupakan? Tapi pria itu bahkan tak tampak sepertiku. Paling tidak, aku tak ingat pernah berusia dua puluh tahun, kuliah di kampus mana aku saat itu?

Key yang pucat itu berhenti mengobrak-abrik lemari seolah menemukan sesuatu. Lalu ia berbalik cepat, dan...

Tidak. Aku menggeleng. Sekilas, kulihat Colt 2000 meletus dari tangannya, menumpahkan darah dari kepala Ayahku.

***

“Apa pembelaanmu?” Jibril yang bersuara.

Terlalu cepat, aku tak sadar bahwa aku telah kembali berada di Neraka. Langit-langit yang meraung memanggil namaku itu kembali ada. Kursi terbakar yang memanggangku juga ada. Dan makhluk-makhluk besar berwarna pijar api yang menyiksa makhluk lainnya disana.

“Katakan apa pembelaanmu, Key?” kata Jibril lagi. “Kau membunuh ayahmu sendiri.”

“Aku tidak membunuhnya!” teriakku, dan aku sadar suaraku telah kembali. “Maksudku, aku tidak ingat pernah melakukan itu...!” setetes air mata mengalir membasahi pipiku.

“Tentu saja.“ kata Jibril, “Kau memang belum membunuhnya. Itu karena kau telah meninggal pada usia lima belas tahun.”

“Apa?”

“Ya. Tepat saat ulang tahunmu yang ke lima belas, kau menolong Rai, kakakmu dari tabrakan Truk dan membuatmu tewas sebagai penggantinya. Itu tindakan yang heroik bukan? Tapi sayangnya, jika kau tidak tewas dalam kejadian itu, kau akan membunuh ayahmu dan membuatmu harus menjalani siksa di tempat ini. Di Neraka!”

“Tapi kenyataannya aku mati 'kan!? Pembunuhan itu tidak terjadi 'kan!?”

“Maaf. Pembelaanmu salah.” tegas Jibril.

Jibril memajukan lagi bidak caturnya untuk memakan gajah caturku seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Tepat saat gajah itu diambil dari tempatnya, sebuah tombak menghujam dadaku dari punggung. Darah mengalir bersama rasa perih, tapi aku tidak mati. Ini... siksaan Neraka.

“Sakit?” Jibril bersuara lagi, “Itu satu ganjaran bagimu karena memakan kudaku sama seperti saat kau membunuh ayahmu, Key.”

“Tapi aku tidak membunuhnya!!!”

“Tapi kau memperlihatkannya barusan..., apa kau belum mengerti juga?”

Mataku merabun, aku melihat dan mendengar Jibril berkata penuh kesungguhan. Skenario macam apa yang telah digambarkannya untukku ini?

“Rupanya kau belum mengerti, ya, Key? Catur ini, menggambarkan hatimu. Setiap langkah caturmu menggambarkan tindakan apa yang ingin kau ambil. Sama dengan saat kau membiarkan bidak caturmu termakan sia-sia. Itu menggambarkan bahwa sebenarnya kau tak menginginkan menyelamatkan kakakmu. Lalu kau memakan kudaku, sama dengan keinginanmu untuk membunuh ayahmu.”

Setetes air mata lagi menetes dari mataku. Aku mencerna kata-katanya.

“Tapi...” kataku lirih, rasa sakit ini mulai tertahan. “Kenyataannya aku menolong kakakku 'kan!? Kau yang bilang! Aku mati saat menolong, dan... aku... tidak membunuh ayahku kan?”

“Tapi kau menyesal.”

“Me...nye...sal?” aku menggeleng, dan saat itu kurasakan tombak kembali tercabut dari dada dan punggungku. Rasa sakitnya membuatku muntah darah.

“Ya. Kau menyesal telah menolong kakakmu. Kau mengatakan itu di saat penentuan dimana akhirmu, apakah surga atau neraka.” Suara Jibril bergema di telingaku, “Kematianmu memang suci, tapi kau tidak ikhlas.”

Aku meratap. Rasa perih dan panas masih menggerayangi tubuhku.

“Majukan bidak caturmu. Ini giliranmu!”

Kepalaku sudah tak sanggup berpikir lagi, tapi tanganku masih bisa bergerak. Akhirnya kumajukan satu langkah kudaku ke hadapan raja. Jibril menatapku, lagi-lagi tampak misterius.

“Itu langkahmu?” kata Jibril samar, “Kau memang tak belajar dari kesalahan, rupanya,”

Mata Jibril bersinar lagi, namun kali ini aku sungguh takut menatapnya. Aku telah mencoba berpaling tapi siluet cahaya itu bergerak lebih dulu, merasuki mataku lagi dan membawaku ke tempat lain.

***

Sebuah bar di sisi kota. Lampu gemerlapan di setiap dinding dan atapnya. Banyak orang juga disana, pria dan wanita. Sebagian adalah orang-orang yang tak pantas, dengan pakaian minim yang memamerkan bagian tubuh yang harusnya menjadi privasi. Yang lainnya menggunakan perhiasan berlebihan. Ada anting di hidung, dagu dan juga tatto yang membalut nyaris sekujur tubuh. Mungkin ini memang mode di zaman ini, tapi aku tak mengerti dimana sisi baiknya.

Perlahan, visiku merayap memasuki bar. Sama seperti sebelumnya, tak ada yang melihatku dan tak ada yang mendengarku. Aku berjalan masuk bar sebagai penonton, menembus orang-orang yang berlalu lalang serta menunggu apa yang akan diperlihatkan Jibril disini.

“Dimana Key?” seorang pria muda berkepala plontos bertanya pada pelayan bar.

Si pelayan tak berbicara, hanya menunjuk satu meja bundar di ujung bar yang dipenuhi wanita-wanita liar, mungkin... pelacur.

Si pria plontos segera berlari dengan sigap ke tempat itu, lalu disambut dengan antusias oleh pria pucat berjaket kulit yang segera berdiri dari tempatnya duduk. Pria pucat yang kuyakini adalah aku.

Aku mulai mengerti apa maksud Jibril tentang kesalahan langkahku. Ya, aku berada di jalan yang salah. Aku berada di bar, menenggak minuman keras bersama wanita-wanita hina yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

”Key, “ kata si pria plontos, tampak terburu-buru. “Ada polisi di luar, kayaknya lagi nyelidikin kasus loe sebulan lalu...”

“Ha!? Polisi!?” Key yang mabuk kaget luar biasa. “Gimana sih!? Semua bukti udah loe samarin ‘kan, terus mayat bokap gue juga udah loe lenyapin ‘kan!? Mana bisa polisi dapetin jejak gue!?”

Si pria plontos menenangkan Key, menyuruhnya duduk dan mengusir wanita-wanita liar di sekitar bangku itu. Kini mereka hanya berdua, duduk dan bicara setengah berbisik.

“Kayaknya ada yang bocorin, Key!” si pria plontos memulai. “Ada yang berkhianat dan ngasih tahu semuanya ke polisi!”

“Oke. Oke. Itu nggak penting, bisa kita urusin nanti... Sekarang –“ Key tampak syok seketika, seperti melihat bayangan trauma masa lalunya. “Ah! Arggh!”

“Key, tenang Key... Kamu bisa narik perhatian kalo kayak gini, oke!? Ya, bagus... tenang...” si Pria plontos terus berusaha menenangkannya. “Tapi kalo boleh gue tahu, kenapa loe bunuh bokap loe waktu itu sih!?”

Mata Key berlinang, dan perlahan air mata menetes melewati wajah pucatnya.

“Nggak. Gue nggak bisa cerita... gue nggak sanggup...”

Dan tepat pada saat itu satu regu polisi masuk dengan senjata siaga di kedua tangan mereka. Menyergap dan meringkus tanpa ampun. Hingga siluet cahaya kembali menyelubungi segenap visiku, satu sensasi yang sama seperti sebelumnya kurasakan kembali.

***

Kursi neraka ini terbakar lagi dan memanggang kulitku, aku kembali berteriak pedih. Bahkan, teriakanku mengalahkan raungan langit-langit yang berisikan iblis.

“Kau sudah melihat kesalahan langkahmu ‘kan?” Jibril berkata lagi, gemanya terdengar berulang. “Alih-alih bertobat, kau justru semakin terjerumus ke dunia hitam. Ini sama persis dengan laju kuda caturmu yang tak terarah,”

“Tapi –! Sudah kukatakan, aku tidak melakukan semua itu! Kau yang bilang kalau aku belum melakukannya ‘kan!? Kau tidak berhak menghukumku atas sesuatu yang belum kulakukan!!!” suaraku tak lagi lirih di Neraka ini, melainkan terdengar amat keras, seperti raungan iblis jahat dalam fantasiku.

“Aku berhak!”

Suara Jibril memadamkan emosiku, gema suara itu pun merayapi telingaku dan membungkam mulutku. Aku terdiam seketika.

Dan hening sesaat, raungan berhenti, siksaan berhenti, Neraka pun seolah mati

“Baiklah, ini giliranku,” kata Jibril memecah keheningan, “...pastikan kau memikirkan dulu langkahmu berikutnya, Key.”

Jibril berpikir, ia tak langsung memajukan bidak caturnya.

“Jibril...,” kataku. “ Tapi, kenapa aku membunuh ayahku? Aku belum mendengar alasanku sendiri pada visi itu...”

Jibril menatapku lagi penuh arti, tapi tak ada siluet cahaya dari matanya kini.

“Pikirkanlah. Itu dirimu, Key... hanya kau yang mengerti jelas apa alasannya.”

“Tapi –“

“Sudah.” Kata Jibril “Aku sudah memajukan bidakku, sekarang giliranmu,”

Jujur, aku tak melihat bidak mana yang dimajukan Jibril. Apakah ini juga bagian dari langkahku di dunia? Aku akan tak melihat gerakan musuhku? Entahlah, kumajukan bidakku yang paling mungkin untuk menekan musuh.

“Jibril, aku memang sedikit membenci ayahku. Kelahiranku merenggut nyawa ibuku, dan ayah sering menyalahkanku atas itu. Ini membuat Rai, kakakku, selalu menjadi anak kesayangannya. Sejak kecil ayahku seolah tak mengharapkanku di dunia. Aku sering diacuhkan sementara ia bekerja dari pagi hingga malam. Jika pun bertemu paling aku hanya dimarahi karena nilai-nilai sekolahku yang jelek. Dan...”

Jibril memajukan lagi buah caturnya, entah yang mana. Lalu ia memintaku untuk melangkah juga. Aku melangkahkan patihku dengan hati-hati, tak terjadi apapun.

“Itu artinya kau iri.” Kata Jibril.

“Iri pada kakakku?” kataku, Jibril mengangguk.

Ia memajukan patihnya untuk memakan satu bidak caturku, tak terpikirkan olehku sebelumnya.

Sekejap mata, bara api dari langit-langit berjatuhan menggores tubuhku. Aku terbakar lagi oleh bara api itu, mengernyit lirih dan kutatap Jibril. Lagi-lagi, ada siluet cahaya disana yang merasuk mataku. Jibril membawaku ke tempat lain lagi.

***

Jasad si pria plontos tergeletak tak berdaya di kantor polisi. Ada dua peluru yang menembus dadanya. Juga noda darah yang awalnya tentu mengalir dari dada itu, tapi kini telah mengering, meninggalkan si plontos dengan wajah yang berubah pucat pasi. Ia telah mati.

Di sisi si plontos, ada beberapa polisi yang sedang berdiskusi, juga beberapa wanita liar yang dijaring dari bar. Beberapa pasangan juga tengah diinterogerasi, beberapa dengan kekerasan yang sebenarnya tak perlu karena mereka tak berbahaya.

Aku mencari dimana aku yang lain, Key, maksudku, yang semalam tengah bersama si plontos. Apakah ia juga tertembak dan mati, ataukah ia kabur dan menjadi buron lagi?

“Key Arthawinata, itu nama lengkapku.” Terdengar suara dari satu ruangan kantor polisi, aku segera menyusul.

Ya, itu memang suaraku. Aku tengah diinterogerasi di ruangan terpisah untuk kasus yang lain. Kasus yang kutahu pasti, pembunuhan ayahku sendiri.

“Katakan alasan jelas tentang motif pembunuhan ayahmu?” polisi itu bertanya.

“Karena aku membencinya,” aku menjawab dengan lugas, seperti telah terlatih sebelumnya, atau kalimat itu telah tertanam permanen di otakku.

“Kenapa membencinya? Aku menginginkan jawaban jelas.” Kata si polisi itu lagi.

“Aku membencinya karena ia membenciku lebih dulu! ...Kau menginginkan jawaban jelas!? Baiklah, aku akan bercerita panjang lebar agar kau puas! Lima atau enam tahun yang lalu, ada kecelakaan truk menabrak pos ronda. Mungkin anda ingat, seorang remaja tewas dalam kecelakaan itu. Itu adalah kakakku. “ ia berhenti sebentar.

“Sebenarnya aku bisa menolongnya,” lanjutnya, “Tapi aku tidak menolongnya karena..., kupikir, ya, dia adalah rivalku. Dia adalah orang yang selalu merebut semuanya dariku. Dia merebut kasih sayang ayahku, dia merebut gadis yang kusukai, orang-orang terdekatku... semua. Dia juga memiliki talenta yang luar biasa, juga ketampanan dan daya pikat, uh, aku benci mengakuinya! Ia selalu mendapatkan pujian dari semua orang, sementara aku!? Kau tahu!? Aku hidup hanya untuk menjadi pembandingnya di dunia ini! Aku, Key Arthawinata, ada hanya untuk membuktikan pada dunia bahwa dialah anak terbaik ayahku. Aku selalu dicaci maki sementara ia mendapat segala pujian... hingga, di kecelakaan itu, aku membiarkannya tertabrak truk sementara aku masih sempat menghindar.”

“Dan hubungannya dengan...”

“Ayahku membenciku sejak saat itu!!!”

Suara Key bergema amat keras hingga menggetarkan seluruh ruangan.

“Lima tahun! Bayangkan... lima tahun ayahku sendiri menuduhku sebagai pembunuh kakakku padahal itu hanyalah kecelakaan! Lima tahun pula ia mengasingkanku dan menjadikanku seperti... ah, seperti outcast!!! Dan... puncaknya, saat itu..., ia bilang pada pacarku... ‘Kamu menantu yang sempurna, Anitha, seandainya saja Rai’, kakakku, ‘nggak dibunuh, pasti kamu udah saya nikahkan dengan Rai, anakku satu-satunya...’”

“Yang benar saja!!!” lanjut Key, “Aku pacarnya Anitha dan dia bilang akan menikahkan pacarku itu dengan kakakku yang sudah mati! Dan dia bilang kakakku itu anak satu-satunya! Dan dia bilang juga kalau aku yang membunuhnya! Ayahku pantas kubunuh!!!”

Dalam emosinya, kulihat Key menerjang sang polisi yang duduk, tapi lalu segera ditahan oleh polisi lainnya yang berada dalam posisi berdiri. Secepat kilat, Key merubuhkan polisi yang menahannya itu, membantingnya ke lantai dan mencabut senjata di pinggang polisi itu. Petugas lainnya yang berada di ruangan itu berhenti ketika Key segera menodongkan senjatanya ke arah mereka.

“Berhenti!!!” Key berteriak, dan setengah tertawa dalam kegilaannya. “Takkan kubiarkan Key yang ini menjadi tahanan dan kembali terasing... akan kuperlihatkan pada –“

Pistol meletus. Aku mengerjapkan mataku. Satu polisi tumbang oleh timah panas dari pistol di tangan Key. Suara letusan kembali terdengar, Key menembak membabi-buta. Tapi polisi-polisi itu tak sempat melawan, sebagian besar dari mereka telah jatuh lebih dulu. Mungkin Key terlalu tangguh...

Tapi itu diriku, dan aku... membunuh lagi, membunuh polisi-polisi karena kegilaanku sendiri. Aku penjahat. Aku penjahat besar dan... jika memang seperti itu, aku pantas berada di Neraka.

Saat kupejamkan lagi kedua mataku, letusan telah berhenti. Tapi apa yang kulihat disana, bukanlah hanya polisi yang tertembak.

Seorang gadis, rambut panjang ikal membingkai wajahnya yang bulat. Tinggi semampai dengan celana jeans ketat yang feminim. Baju putih yang indah. Kulit yang terang pula, tapi dahinya... Terlihat lubang di dahi itu, lubang peluru yang mengalirkan darah segar. Key berteriak.

“ANITHA!!!” ia berlari menghampiri gadis itu, Anitha.

Pistolnya terjatuh dari genggaman. Pistol itu... tangan itu... dialah yang telah menembak Anitha.

Dan suara letusan kembali terdengar saat ia berlari. Yang kulihat jelas, seorang polisi segera menembak mati pembunuh itu. Hingga siluet cahaya kembali menyergap visiku...

***

“Skakmat.” Kata Jibril

Aku masih memejamkan mataku, aku hanya mendengar suara Jibril dari telingaku.

“Langkahku tadi, itu skakmat bagimu, Key. Kau kalah.”

Aku tak berani membuka kedua mataku, aku takut akan siksaan Neraka apa lagi yang ditunjukkan Jibril. Aku takut pada api dan raungan yang akan ditunjukkannya. Aku hanya mendengar.

“Key? Kenapa kau? ...eh? Key!!! Sadar!!! Loe nggak pingsan ‘kan!?”

Nggak!!! Nggak mungkin..., ini bukan suara yang barusan, ini bukan suara Jibril. Aku amat mengenal suara ini dan ini... nggak mungkin!

Perlahan kubuka kedua mataku. Tapi bukan Neraka yang kulihat disana..., bukan juga Surga yang indah. Bukan hukuman, dan bukan pemberian. Tapi ini dunia nyata.

Aku berada di sisi jalan besar yang sepi, di pos ronda dan hari sudah larut malam. Di hadapanku ada sebuah papan catur yang tengah dimainkan. Sudah skakmat, aku kalah sebagai hitam. Dan menemaniku bermain..., mustahil, itu Rai, kakakku.

Itu Rai... ia hidup, dan... aku juga hidup. Lalu apa yang barusan kulihat? Surga apa? Neraka apa? Jibril apa? Apakah ini mimpi?

“Key?” Rai mengibaskan tangannya ke mukaku, “Kamu nggak ngelindur ‘kan? Lupa ya? Kita lagi ronda nih, ngegantiin ayah yang lagi halangan hadir, kerjaannya di kantor banyak banget sih...”

Aku terdiam hening. Ini nyata. Aku sungguh bahagia, seolah aku baru ingat bahwa diluar orang-orang yang sering membandingkan aku dengan Rai, sebenarnya kakakku itu orang yang baik dan menyayangiku.

“Yah, Rai... main lagi?”

“Oke.” Kata Rai antusias. “Semangat banget nih yang lagi ulang tahun ke lima belas...”

Ulang tahun ke lima belas...

Aku syok. Kalimat itu terulang lagi di benakku:

Ulang tahun ke lima belas...

Ulang tahun ke lima belas...

Ada suara truk besar dari tikungan jalan, aku menengok. Ada truk. Sebuah truk yang besar dengan lampu menyala menyilaukan mataku, tapi sinar lampunya menunjukkan bahwa sang pengemudi itu kehilangan kendali. Kurasakan bahwa sepertinya benturan akan terjadi beberapa detik lagi...

Tiga...

Aku meloncat keluar dari pos.

Dua...

Truk itu semakin dekat, kakaku berusaha berdiri.

Satu...

Kakakku nyaris mencapaiku, aku hanya perlu menariknya keluar dari pos.

Nol...

Tidak. Menariknya bukanlah gayaku, maka kubiarkan ia tergilas bersama pos ronda yang segera hancur porak poranda dilewati truk.

***

Aku berdiri ditempatku, melihat Rai tewas dihadapanku dengan jasad yang tak berbentuk lagi. Batinku berteriak lirih, aku bertanya-tanya apa yang mungkin akan terjadi setelah ini... Apa yang akan dikatakan ayahku padaku... Apa yang kulakukan terhadapnya...

Tapi, kurasa aku tak perlu bertanya lagi, karena aku sudah tahu cerita lengkapnya dengan jelas.

“Jibril, terima kasih sudah mengajakku bermain. Tapi kurasa aku lebih merindukan Neraka.”

***

Senin, 29 Juni 2009

PSIKOLINGUISTIK


Proses Pengulangan Struktur Kata pada Orang Latah

Oleh : Muttaqin Zaenal

ABSTRAK

    Latah ialah sebuah gangguan yang disinyalir Sigmund Freud sebagai manifestasi dari alam pikiran bawah sadar kita yang terpendam. Sebagian besar manusia mengalami gangguan ini. Seseorang yang mempunyai kebiasaan mengulang ucapan orang lain (latah) disebabkan oleh sistem saraf yang secara refleksi membuat rangsangan pada sistem saluran motoris yang memerintahkannya. Orang latah cenderung mengulang kata dari si pemberi pesan. Meskipun orang latah meniru dan meakukan apa yang dikatakan oleh si pemberi pesan. Peneliti melakukan pengamatan terhadap beberapa orang yang ‘mengidap penyakit’ latah. Objek penelitian ini, secara umum peneliti lakukan. Baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan pengamatan di sekitar kita, latah lebih banyak dialami oleh kaum hawa. Mungkin ini disebabkan karena secara emosional perempuan lebih rentan terhadap stress dibandingkan laki-laki sehingga perempuan juga lebih mudah mengalami trauma. Proses pengulangan kata yang terjadi pada orang latah relatif sedikit, bahkan ini bukan proses pengulangan yang seutuhnya karena pengulangan ini tidak ada makna yang spesifik terhadap respon si pemberi pesan. Barangkali ini hanya proses pengulangan yang tidak sengaja.

    Kata kunci : Latah, sengaja dan tidak sengaja, si pemberi pesan, pengulangan kata.

PENDAHULUAN

    Kini dunia semakin maju, orang-orang tidak lagi berpikiran mundur. Bahkan sejak lahir, manusia sudah bisa memenuhi kebutuhannya yang bersifat material. Ini berangkat dari pemenuhan kebutuhan yang semakin hari semakin mendesak. Sarana dalam pemenuhan kebutuhan ini pun sangat berpengaruh. Misal, seseorang yang berbelanja akan berbeda dengan sistem bahasa yang digunakan oleh orang yang berdebat. Apalagi jika sistem bahasa dikaitkan dengan kondisi psikologi yang menyertainya. Sistem bahasa ini akan sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhannya. Akan tetapi, masih banyak orang yang salah menempatkan bahasa pada koteks tertentu. Dan ada juga orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja melakukan pengulangan ucapan bunyi yang dihasilkan oleh orang lain. Mereka tidak sengaja mengulang kembali apa yang dikatakan orang lain. Yaitu ketika kita melihat dan mendengar atau bahkan mengalami ke-latahan. Kecenderungan mengulang bunyi ini timbul karena spontanitas. Baik disadari maupun tak disadari.

    Di Indonesia, gangguan latah berkembang pada suku-suku di Pulau Jawa, Sumatera, dan pedalaman Kalimantan. Sementara itu, di wilayah Asia lainnya, penyakit latah ditemukan antara lain di tengah masyarakat suku Ainu di Jepang dan masyarakat gurun pasir di Gobi. Di Eropa, latah juga ada pada suatu suku di Prancis. Penyakit ini punya dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi, latah dianggap sebagai penyakit dan di sisi lain sebagai alat pengantar untuk bisa lebih bergaul, terutama di kalangan anak muda.

    Dalam konteks ini, saya akan lebih mengkhususkan pada sistem berbahasa yang tidak sengaja atau spontanitas (Latah). Latah adalah bentuk gangguan kejiwaan berupa meniru ucapan orang lain tanpa sempat berpikir atas ucapan yang ditirunya itu.

    Seseorang yang mempunyai kebiasaan mengulang ucapan orang lain (latah) disebabkan oleh sistem saraf yang secara refleksi membuat rangsangan pada sistem saluran motoris yang memerintahkannya. Umumnya timbul karena ada trauma psikologis yang dialami oleh orang tersebut. Trauma psikologis yang dialami seseorang bisa menjelma ke dalam berbagai bentuk seperti phobia, histeris, obsesif-kompulsif, latah, dan sebagainya.

    Menurut KBBI edisi ketiga, latah mempunyai arti; Menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain, berkelakuan seperti orang gila, misalnya; karena kehilangan orang yang dicintai, meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh.

    Menurut Dr. Rinrin R. Kaltarina, Psi.,M.Si., Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget. Dan ada empat macam latah :

    1. Ekolalia: mengulangi perkataan orang lain
    2. Ekopraksia: meniru gerakan orang lain
    3. Koprolalia: mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor
    4. Automatic obedience: melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud” atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.

    Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali, pascareaksi kaget (starled reaction). Saat latah muncul yang berkuasa alam bawah sadar (subconcious).

    Susunan kepribadian oleh Freud (1856-1939)

    Bisa saja sebuah pemikiran akan mendapatkan sebuah ide yang kreatif. Pemikiran jika dihubungkan dengan bahasa akan lebih mendapatkan sebuah output yang memang berguna. Ketika psikologi menjadi sebuah sandaran atau menjadi kepribadian yang utuh, seperti yang dirumuskan oleh Freud (1856-1939), terdiri atas tga sistem yang penting (Id, ego, dan super ego). Dalam diri seseorang, yang mempunyai jiwa yang sehat ketiga sistem ini merupakan satu susunan yang bersatu dan harmonis. Akan menjadi sebuah pengaruh yang bisa menjadi cara untuk memperlakukan bahasa. Pertama, Faal (fungsi) dari id adalah untuk mengusahakan segera tersalurkannya kumpulan-kumpulan energi atau ketegangan yang dicurahkan oleh jasad dalam rangkaian-rangkaian, baik dari dalam maupun dari luar. Dalam bentuk paling mulanya, id adalah suatu alat refleksi yang segera melepaskan melalui saluran-saluran motoris setiap rangsang sensoris yang mengenainya. Misalnya, sinar cahaya yang terang jatuh diatas selaput jala mata, maka kelopak mata akan menutup dan sinar cahaya itu dicegah untuk mencapai selaput mata jala lagi. Kedua, Hubungan timbal balik antara seseorang dengan dunia memerlukan pembentukan suatu sistem rohaniah baru yaitu Ego. Ego adalah pelaksana dari kepribadian, yang mengontrol dan memrintah id dan superego dan memelihara hubungan dengan dunia luar untuk kepentingan seluruh kepribadian dan keperluannya scara luas. Berpikir secara tepat berarti kemampuan untuk sampai pada kebenaran, dalam arti kata bahwa kebenaran itu dianggap sesuatu yang ada. Ketiga, Superego adalah cabang moril atau cabang keadilan dari kepribadian. Ego dibentuk dari id dan superego dibentuk dari ego. Ketiga faktor ini terus-menerus saling mempengaruhi dan berpadu satu sama lain selama penghidupan. Pengaruh timbal balik dan perpaduan itu, demikian juga pertentangan yang timbul antara ketiga sistem itu, merupakan pokok pembicaraan.

    Latah ialah Sebuah gangguan yang disinyalir Sigmund Freud sebagai manifestasi dari alam pikiran bawah sadar kita yang terpendam. Dalam konteks ini, saya akan lebih mengkhususkan pada sistem berbahasa yang tidak sengaja atau spontanitas (Latah). Latah adalah bentuk gangguan kejiwaan berupa meniru ucapan orang lain tanpa sempat berpikir atas ucapan yang ditirunya itu. Latah ada yang ringan, sekadar meniru ucapan. Akan tetapi ada juga latah yang berat, yakni meniru ucapan sekaligus melakukan perbuatan yang sesuai dengan isi ucapan orang itu. Misalnya, ia mengatakan “Eh, copot! copot baju” maka ia akan mencopot baju sendiri. Latah dalam konteks yang sesungguhnya ini merupakan sebuah reponsitas dari si penutur terhadap responsitas si petutur (dikagetkan). Dalam penelitian ini saya akan mendeskripsikan terlebih dahulu macam-macam latah, apa yang termasuk ke dalam golongan latah, apa pengaruhnya bagi orang lain, dan bagaimana mengatasinya atau menyembuhkannya.

    Pengulangan ucapan (proses pengulangan atau reduplikasi)

    Seperti yang kita ketahui, bahwa Latah merupakan perbuatan mengulang ucapan orang lain secara spontan, tanpa bepikir terlebih dahulu. Proses pengulangan ucapan orang lain ini, menurut Prof. Dr. Ramlan, disebut reduplikasi. Proses pengulangan atau reduplikasi ialah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan itu disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk ulang.

    Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, pengulangan dapat digolongkan menjadi empat golongan. Pertama, pengulangan seluruhnya, ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Misalnya, sepeda menjadi sepeda-sepeda, buku menjadi buku-buku. Kedua, pengulangan sebagian, ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Bentuk dasar ini tidak diulang seluruhnya, hampir semua bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks. Misalnya, membaca-baca, ditarik-tarik, berlari-lari, terbatuk-batuk, berdekat-dekatan, minum-minuman, kedua-dua. Ketiga, pengulangan bentuk yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Dalam golongan ini bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulangan itu terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya, kereta-keretaan yang terbentuk dari bentuk dasar kereta yang diulang dan mendapat afiks-an. Begitu juga dengan kata anak-anakan, rumah-rumahan, kehitam-hitaman, seluas-luasnya terbentuk dengan cara yang sama dengan kereta-keretaan. Keempat, pengulangan dengan perubahan fonem, kata ulang yang pengulangannya temasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit. Misalnya, kata bolak-balik, dibentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem, ialah dari /a/ menjadi /o/, dan dari /i/ menjadi /a/. Kata gerak-gerik, terdapat perubahan fonem, dari fonem /a/ menjadi fonem /i/. Kata lauk-pauk, terjadi perubahan fonem kosonan /l/ menjadi fonem konsonan /p/, dan sebagainya.

Rumusan masalah yang melatarbelakngi penelitian ini adalah :

  1. Deskripsikan apa yang dimaksud Latah, dan jenisnya!
  2. Bagaimana penyebab dan bagaimana cara menyembuhkan penyakit Latah?
  3. Bagaimana proses pengulangan struktur kata pada orang Latah?

    Tujuan penelitian yang berjudul “Proses Pengulangan Struktur Kata pada Orang Latah” adalah sebagai berikut :

    1. Mendeskripsikan pemahaman “Apa itu latah?
    2. Memberikan informasi mengenai penyebab ke-latahan seseorang
    3. Memberikan solusi untuk menyembuhkan atau mengurangi ke-latahan seseorang
    4. Mendeskripsikan proses pengulangan struktur kata pada orang latah?

    Metode penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui klasifikasi latah, penyebab, dan cara penyembuhannya, serta kecenderungan ucapan kata yang diulang. Maka dalam penelitian ini, kami menggunakan beberapa pendekatan. Yaitu observasi atau pengamatan, wawancara, dan studi pustaka.

  1. Observasi

    Peneliti melakukan pengamatan terhadap beberapa orang yang ‘mengidap penyakit’ latah. Objek penelitian ini, secara umum peneliti lakukan. Baik laki-laki maupun perempuan. Pengamatan ini berlangsung selama beberapa hari. Yaitu ketika ia berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Apa yang ia lakukan? Dia bergaul seperti biasa. Makan dan minum yang teratur. Tapi ketika ada orang yang dengan sengaja mengagetkannya, misalnya ia dikagetkan oleh orang lain atau sesuatu kejadian yang secara tiba-tiba, ia spontan mengatakan kata-kata jorok. Latah merupakan suatu bentuk gangguan kejiwaan berupa gangguan dalam meniru ucapan orang lain tanpa sempat berpikir atas ucapan yang ditirunya itu. Latah ini bersifat spontan, artinya jika seseorang dikagetkan atau digertak maka seseorang itu akan mengikuti apa yang diucapkan orang yang bersangkutan.

  1. Wawancara

    Setelah pengamatan yang dilakukan peneliti, maka peneliti bertanya atau mewawancarai kepada orang yang dijadikan sebagai objek penelitian. Wawancara ini bersifat santai, artinya wawancara ini dilakukan tidak formal yakni dengan obrolan-obrolan yang ringan. Sehingga tidak menyinggung lawan bicara.

  1. Studi pustaka

    Untuk mendukung penelitan ini, peneliti melakukan studi pustaka atau mencari dan mengambil data dari beberapa buku yang menunjang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

    Di bawah ini akan diuraikan beberapa hasil temuan-temuan dari seluruh pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap penderita gangguan Latah.

    Setelah peneliti melakukan observasi atau pengamatan, dan wawancara. Peneliti berhasil mendapatkan data-data yang relevan dalam penelitian ini. Selama beberapa hari peneliti berhasil mengamati salah seorang yang cenderung berkata Latah, Latah adalah sebuah kondisi yang disebut hyperstartling (kondisi yang muncul secara tiba-tiba) yang umumnya banyak ditemukan di Asia bagian Tenggara yang biasanya ditemukan sebagian besar pada wanita. Orang yang latah mempunyai suatu reaksi terkejut yang menyebabkan mereka lepas kontrol dari perilaku mereka yang asli, dengan meniru suara-suara, cara bicara, dan tindakan-tindakan di sekitar mereka, bahkan hingga mematuhi setiap perintah-perintah yang diarahkan pada mereka. Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Teori kuno menyatakan, penderita latah biasanya orang tua, perempuan, berpendidikan rendah, dan berasal kelas ekonomi bawah. Namun, teori itu tak sepenuhnya tepat. Buktinya, kini banyak remaja yang mengidap latah. Penderita latah pria pun ada meski jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan perempuan.

    Seseorang yang tidak bisa disebutkan namanya, atau sebut saja dengan Dw (20), ia mengaku menderita latah sejak kecil, ia seringkali mengikuti ucapan orang lain. Ia mengaku tak sadar ketika mengucapkan kata-kata itu. Menurut dia, ini hanya spontanitas. Tidak bisa direkayasa. Tanpa berpikir dulu sebelum mengucapkan. Seringkali teman-temannya mempermainkan dia. Banyak dari mereka yang suka iseng dan ngerjain. Kata yang diucapkannya tergantung dari orang yang mengucapkan. Misalnya, ketika ia menyebrang, lalu ada motor yang lewat dan membunyikan klakson tiiin... secara spontan ia lalu mengatakan “Eh, tin, tin, tin.” Dan bahkan ia latah tergolong berat seperti ketika salah seorang temannya bersin, ia lalu ikut bersin juga. Salah seorang temannya juga, bernama YL (19), mengalami latah juga. Ia masih tergolong ringan yakni hanya mengucapkan saja tidak megikuti perbuatan lawan bicara. Setiap apapun itu yang mengagetkan dia, ia sering mengucapkan “Eh, Mah.” Kedua orang ini memliki sifat yang sama, yakni pendiam.

    Latah cenderung pada kaum perempuan

    Belum ada penelitian tentang perbandingan jumlah penderita latah antara perempuan dan laki-laki. Tapi berdasarkan pengamatan sekilas apa yang terjadi di sekitar kita, latah lebih banyak dialami oleh kaum hawa. Mungkin ini disebabkan karena secara emosional perempuan lebih rentan terhadap stress dibandingkan laki-laki sehingga perempuan juga lebih mudah mengalami trauma. Sebut saja kalangan seleb, mulai Viona Rosalia sampai Mpok Atik, pada demen latah.

    Tidak ada perbedaan antara latahnya perempuan dengan latahnya laki-laki. Mungkin bedanya hanya dari ucapan yang sering dikeluarkannya. Kalau perempuan cenderung mengucapkan sesuatu yang berbau porno atau lucu, sedangkan laki-laki cenderung mengucapkan kata-kata yang bersifat kasar seperti (maaf) ‘eh mampus’ dsb.

    Di masyarakat seringkali ada pandangan kalau perempuan yang latah itu sah-sah saja. Kesannya kalau laki-laki itu latah maka dia tidak macho, enggak jantan, orangnya lemah lembut, mudah nangis, dsb. Ini karena orang mengidentikkan orang yang latah sebagai orang yang tidak punya pendirian karena sering ikut-ikutan ucapan orang.

    Memang tidak bisa dimungkiri, kalangan laki-laki yang latah ini kebanyakan banci. Maksudnya, kelompok banci memang paling sering latah. Tapi bukan berarti kalau dia bencong otomatis pasti latah, atau kalau laki-laki latah berarti dia bencong. Biasanya ini muncul karena sejak kecil mengalami tekanan batin dan sering menerima perlakuan yang menyakitkan hatinya atau menimbulkan trauma. Ketika latah itu muncul disertai dengan gaya seorang bencong justru menimbulkan kelucuan bagi orang sekitarnya. Akibatnya latahnya bencong jadi ngetren di kalangan masyarakat.

    Proses pengulangan struktur kata pada orang latah

    Banyak orang yang mengalami gangguan latah, dan orang ini cenderung mengatakan kata-kata yang cukup singkat. Artinya, ia hanya mengatakan beberapa kata. Tidak sampai pada kalimat yang tatarannya luas. Misalnya, “Eh copot” dalam tataran morfologi, ini terdiri dari dua morfem, yakni morfem {eh} dan morfem {copot}.

    Orang latah ini hanya mengulang kata dari si pemberi pesan. Dia tidak dapat mengatakan sesuatu tanpa berpikir untuk mengatakannya, tanpa sadar. Seperti yang dialami oleh DW, ketika salah satu temannya bilang jatuh, ia lalu berkata “Eh, jatuh-jatuh.” Dan ketika temannya bersin, ia lalu bersin. Proses pengulangan kata ini tergolong pengulangan seluruhnya, yakni pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, seperti kata jatuh-jatuh, kata ini mengandung makna sesuatu perpindahan atau sesuatu yang terlempar ke bawah. Pada kasus ini, kata ini berasal dari pengucapan awal oleh seorang pemberi pesan. Sebenarnya tidak ada korelasi dari si pemberi pesan. Dia mengucapkan kata yang memang ada dibenaknya (DW), tanpa tahu makna dari kata itu.

    Proses pengulangan yang terjadi relatif sedikit, bahkan ini bukan proses pengulangan yang seutuhnya karena pengulangan ini tidak ada makna yang spesifik terhadap respon si pemberi pesan. Barangkali ini hanya proses pengulangan yang tidak sengaja. Lalu dimanakah yang disebut sebagai pengulangan yang terjadi terhadap orang latah ini. Ini hanya merupakan bentuk pengulangan kata dari orang latah tersebut, tanpa makna yang sesungguhnya terkandung dalam pengulangan itu.

    Barangkali sebuah analogi yang menggambarkan bahwa orang normal tidak lagi disebut sebagai orang yang sempurna. Orang latah merupakan orang normal juga. Baik latah yang disengaja maupun latah yang tidak disengaja. Mereka adalah orang yang mempunyai kelebihan dalam menggunakan tindak tutur berbahasa. Orang latah cenderung berkata tergantung dari orang yang mengucapkan pertama kali kata itu. Jadi, orang latah begitu mudah mengatakan sesuatu karena tanpa berpikir terlebih dahulu. Tataran

    Penyebab timbulnya latah

    Penyebab utama latah adalah kecemasan atau tertekan gara-gara stres. Setelah peneliti melakukan prosedur penelitian maka dapat kita simpulkan penyebab timbulnya gangguan latah, yaitu :

  1. Pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih ke arah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.
  2. Kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga.
  3. Pengondisian. Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut ”latah gaul”.

Cara menyembuhkan orang latah

    Menurut seorang ahli psikiater, untuk dapat menyembuhkan seeseorang yang mengalami gangguan latah, ada beberapa taknik atau metode :

    Pertama, dengan teknik EFT (Emotional Freedom Teknik) atau teknik pembebasan emosi, dimana kita tanpa harus minum obat, tanpa dengan alat, hanya dengan terapi ini. Dengan teknik ini penyakit dari yang ringan sampai berat pun bisa disembuhkan. Ilmu ini berasal dari Amerika dan sudah terbukti jutaan orang dan baru dikenal di Indonesia kurang lebih setahun oleh Holistic Institute.

    Kedua, Syarat munculnya latah adalah adanya keterkejutan. Untuk mengurangi dan menyembuhkan latah, ia harus bisa menemukan ketenangan hidup. Misalnya, keluar dari rumah kalau orang tuanya kerap melakukan tekanan atau berganti bidang pekerjaan jika pekerjaannya itu membuatnya stres. Untuk menyembuhkan si latah, lingkungan memang harus berempati. Ada penderita latah yang sembuh sendiri setelah berkeluarga dan hidup tenang. Selebihnya, penderita dianjurkan melakukan latihan relaksasi, meditasi, dan konsentrasi secara rutin. Kegiatan ini akan membantu penderita menuju kesembuhan. Dan, sering-seringlah melakukan aktivitas menyenangkan yang tidak membuat stres (Dr. Rinrin R. Khaltarina, Psi., M.Si.). Terapi puasa cukup populer di Eropa maupun AS. Kabar gembira lain, hasil riset terakhir membuktikan puasa yang dijalankan secata tepat dan benar, bisa berfungsi sebagai terapi bagi penderita latah. Ini bersumber kepada fakta bakti bahwa pausa dapat membuat seseorang lebih mampu menguasai dan mengendalikan diri.










LAMPIRAN

    Salah satu metode yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Berikut instrumen wawancaranya.

    Proses Pengulangan Struktur Kata pada Orang Latah

    Nama :

    Tempat, tanggal, lahir :

    Alamat :

    Pendidikan terakhir :

    Pertanyaan –pertanyaan :

  1. Apakah anda termasuk orang yang mengulang ucapan orang lain atau anda termasuk orang yang mempunyai ganguan latah?
  2. Sudah berapa lama anda mengalami gangguan ini?
  3. Kecenderungan kata apa yang sering muncul dalam ucapan anda?
  4. Menurut anda, proses pengulangan kata ini konsisten atau tidak?
  5. Kata yang diulang termasuk kata yang sering anda gunakan atau kata yang belum pernah anda gunakan sebelumnya?
  6. Kata yang sering anda ulang termasuk jenis kata apa?
  7. Anda tahu penyebab gangguan latah ini?
  8. Menurut anda, latah penyakit atau kebiasaan?
  9. Apa dampak yang timbul dari segi psikologis, dan sosial anda? Apakah anda merasa minder atau merasa dijauhi oleh teman anda?
  10. Bagaimana sikap anda jika teman anda meledek atau menjauhi anda?

REKOMENDASI

    Setelah peneliti melakukan pengamatan, wawancara terhadap orang yang mengalami gangguan latah, maka peneliti mengajukan beberapa ajuan atau rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.

    1. Penelitian ini bersifat kualitatif, maka untuk penelitian selanjutnya harus ada data-data yang sanagt relevan dalam peneltian.
    2. Masih kurangnya literatur yang menunjang penelitian.
    3. Masih bersifat spontanitas, sehinngga perlu adanya konsep-konsep yang matang dalam peneltiian selanjutnya.


REFERENSI

Call, S. Calvin. 1960. Sigmund Freud Pengantar ke Dalam Ilmu Djiwa S. Freud. Pustaka Sardjana : Djakarta

Ramlan, Prof. Dr. M. 1997. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. C. V. Karyono : Yogyakarta

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0603/08/1001.htmfromhttp://www.pikiranrakyat.com/cetak/
from http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0603/08/1001.htm
from http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/05/syiar06.htm
from http://kafka.web.id/depan_130.html
from http://andalasdejava.wordpress.com/2007/09/05/mental-latah-kita/
from http://blog.dakota23.com/archives/2005/04/12/latah/