“Potret Keluarga”, Transformasi Sukab, dan Seno Gumira Ajidarma
Oleh Muttaqin Zaenal*
Ketika kita tua, maka yang terbayang adalah keindahan-keindahan yang tercipta di masa muda. Terbayang pahit dan getirnya menjalani hidup. Keluarga. Kita pasti ingat, bagaiman Ibu kita mengajari tentang menjahit, mengajari kita agar bersikap tenang, sopan, dan sabar. Kita teringat bagaimana Ayah kita berlaku adil kepada semua anggota keluarga, dan saudara-saudara kita yang penuh dengan keceriaan, keriangan, dan keindahan.
***
Paragraf di atas sekelumit tentang isi dari cerpen “Potret Keluarga” buah karya Seno Gumira Ajidarma yang ditulis pada tahun 1994 dan dimuat di majalah Warta Bumiputera 12/XXI/ Juli-Agustus 1994. Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston 19 Juni 1958. Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga.
Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.***
Cerpen ini mengingatkan kita pada keluarga. Berkisah tentang seorang perempuan, Marni, yang sedang memandang Potret keluarga yang di pajang pada dinding rumahnya. Dalam Potret itu, Ayah membaca koran sambil mendengarkan radio, Ibu menjahit, Budi belajar, dan dirinya sendiri meninang-nimang boneka. Potret keluarga itu terletak di dinding, di antara potret-potret keluarga yang lain. Potret keluarga yang berwarna coklat tua, agak menguning, tapi sangat terpelihara.
Secara pengaluran, cerpen ini bersekuen ingatan yakni sorot balik (ingatan penuh). Ketika Marni melihat potret itu, ia jadi teringat kembali bagaimana potret itu dibuat. Kala itu, paman Sukab datang membawa sebuah tustel tua merek Leica. “Ayo! Ayo! Foto dulu!” Ayah dan Ibu ketika itu akan beranjak, tapi Pman Sukab menahannya. “jangan! Jangan berdiri! Sudah duduk begitu saja, ini bagus sekali”. Awalnya Marni yang sedang menimang-nimang boneka tak mengerti, tapi kini Marni sangat paham mengapa paman sukab menahannya. Potret zaman sekarang tidak lagi jujur, semua berjajar, senyum yang dibuat, berdiri menghadap kamera. Paman sukab tidak menghendaki itu, karena dengan foto yang natural, tidak dibuat-buat, akan terasa hidup kembali bila kita melihatnya.
Mengapa Sukab? Ini sebuah pertanyaan yang terlintas dalam benak pembaca yang sering membaca karya Seno Gumira Ajidarma (SGA). Ya, cerpen “Potret Keluarga” pun ada tokoh yang bernama Sukab, yakni pamannya Marni. SGA lebih sering menggunakan nama Sukab sebagai tokoh dalam cerita-cerita pendeknya. “Potret Keluarga” ini ada dalam kumpulan cerita pendek SGA “Dunia Sukab, sejumlah cerita”1. Ia mengawali dalam catatan penulis, serba-serbi Sukab. Seberapa pentingkah asal-usul Sukab? SGA tidak tahu. Nama Sukab pertama kali SGA dengar ketika ia belum pernah menulis. Seorang kawan menyebut nama itu (dengan ejaan yang lebih terdengar sebagai “Sukap”) sebagai nama salah seorang anggota Bengkel Teater pimpinan Rendra. SGA tidak mengenal “Sukap” ini, namun bunyi “Sukap” terdengar sangat enak di telinga, dan selalu teringat ekspresi wajah kawannya itu ketika menyebut bunyi “Sukap”. Ia tidak tahu dan tak sadar pengalamannya pertama kali menggunakan nama itu dalam karyanya, nama itu suka muncul setiap kali membayangkan sosok “rakyat”. SGA memang sering bercerita tentang sosok “rakyat” dalam karya-karyanya. Sukab bisa menjadi seorang nelayan, bisa menjadi preman pasar, bisa menjadi seorang pemimpi, bisa menjadi rakyat yang menjelma menjadi pejabat, dan bisa menjadi Sukab-Sukab lain yang belum pernah ia tulis.
“Potret Keluarga” menjadi sebuah imaji kehidupan yang tak lepas dari keluarga. SGA menggambarkan sosok Paman Sukab yang mengerti keindahan sebuah potret keluarga.
“Ketika lampu kilat kamera Paman Sukab berpijar, mereka tidak ada yang memandang ke arah lensa. Ayah membaca koran sambil mendengarkan radio. Ibu menjahit. Budi belajar. Marni menimang-nimang boneka.”
Jelaslah bahwa itu sebuah potret yang jujur. Tidak berdiri berjajar-jajar menghadap kamera, dengan jas, dasi, dan kain kebaya (supaya terihat mewah dan kaya) seperti potret keluarga masa kini.
Lahirnya keluarga tak lepas dari peran seorang Ibu.
“Kecantikan seorang wanita bukan di wajahnya Marni, tapi dalam kepalanya, otaknya,” kata Ibu selalu.
Dan Ibu memang bukan hanya cantik wajahnya, tanpa akal dalam kepala Ibu, penghasilan Ayah tak akan cukup untuk membeli tanah, membangun rumah, mengangsur radio, serta menyekolahkan Budi dan Marni sampai lulus dari perguruan tinggi. Ibu selalu punya akal untuk mengatasi kesulitan keuangan, menyelesaikan masalah keluarga, dan membereskan tetek bengek rumah tangga. Marni kagum pada Ibu.”
Seorang Ibu pasti akan menjadi solusi dalam setiap masalah. Ia mempunyai banyak pilihan dalam memilih penyelesaian yang dianggap lebih baik dan tepat untuk sebuah keluarga.
Potret keluarga hanyalah sebuah potret, yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang diam. Akan tetapi, sebuah potret keluarga akan menjadi sebuah kehidupan yang selalu mengajarkan bagaimana pentingnya sebuah kelurga di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Dengan “Potret Keluarga” kita akan sangat menghargai orang-orang terkasih kita.
Pada akhirnya, Marni yang sudah mempunyai Fahmi sebagai suami, dan anak-anak, dan sudah mulai beruban, teringat Budi, adiknya, yang dalam foto itu sedang belajar, berkutat dengan soal-soal, kini Budi berubah menjadi garang. Marni tidak tahu di mana ia sekarang. Ia berpindah-pindah dari suatu tempat yang berbeda. Menjadi pengembara politik tidaklah selalu menyenangkan. Bahkan tidak datang ketika pemakaman Ibu dan Ayahnya. Ia sudah terlalu membenci Indonesia.
SGA mengungkapkan sebuah cerita dengan gaya yang lugas. Tidak begitu penting sebuah metafor-metafor yang diciptakan. Melainkan sebuah tema yang ada di tengah-tengah kehidupan. Apalagi dengan sebuah suguhan cerita keluarga sederhana, yang sangat jauh berbeda dengan keluarga masa kini. Dengan analogi sebuah potret, SGA membandingkan keluarga yang benar-benar jujur dan tak jujur, dan semua tentang sebuah keuarga sederhana.
Sukab dan Seno, mengajarkan kita tentang sebuah keluarga.
Catatan:
*Mutaqin Zaenal, lahir di Serang, 24 Februari 1989. Sedang menyelesaikan studinya di Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia . Bergiat di Aksaran. Puisinya tergabung dalam buku antologi puisi Para Penyair Muda (Partere Production, 2009).
1Dunia Sukab, sejumlah cerita. Penerbit Buku Kompas, Jakarta , Juli 2001.
*Zaenal Muttaqin, lahir di Serang, 24 Februari 1989. Sedang menyelesaikan studinya di Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penggiat linguistik dan penikmat sastra. Puisinya tergabung dalam buku antologi puisi Para Penyair Muda (Partere Production, 2009).